Yuzuru Hanyu: The Ice Prince of SendaiYuzuru Hanyu: Pangeran Es dari Sendai
Pratinjau Audio Lengkap
0:00
0:00
#1
Yuzuru Hanyu's journey began in Sendai, Japan, where he was born in 1994.
Perjalanan Yuzuru Hanyu dimulai di Sendai, Jepang, tempat ia dilahirkan pada tahun 1994.
#2
At the young age of four, he followed his older sister onto the ice rink, beginning his figure skating adventure.
Pada usia empat tahun, ia mengikuti kakak perempuannya ke arena seluncur es, memulai petualangan seluncur indah (figure skating).
#3
He faced a challenge early on, battling asthma, but he refused to let it define him.
Ia menghadapi tantangan sejak dini, berjuang melawan asma, tetapi ia menolak membiarkan penyakit itu menentukan hidupnya.
#4
Even as a teenager, Yuzuru's talent shone brightly as he began winning junior competitions, hinting at the greatness to come.
Bahkan saat masih remaja, bakat Yuzuru bersinar terang saat ia mulai memenangkan kompetisi junior, mengisyaratkan kehebatan yang akan datang.
#5
The date March 11, 2011, is etched in the memory of Japan, and in Yuzuru's life.
Tanggal 11 Maret 2011, terukir dalam ingatan Jepang, dan dalam kehidupan Yuzuru.
#6
While Yuzuru was practicing on the ice, a massive earthquake struck Sendai, and the building shook violently.
Saat Yuzuru sedang berlatih di atas es, gempa bumi dahsyat melanda Sendai, dan bangunan itu berguncang hebat.
#7
He had to evacuate immediately, running outside in his skates as the world around him changed forever.
Dia harus segera mengungsi, berlari ke luar dengan sepatu seluncur saat dunia di sekitarnya berubah selamanya.
#8
The earthquake and subsequent tsunami destroyed his rink and damaged his family's home, leaving a scar on his life.
Gempa bumi dan tsunami yang menyusul menghancurkan arena seluncurnya dan merusak rumah keluarganya, meninggalkan bekas luka dalam hidupnya.
#9
With no rink to call home, Yuzuru found himself training wherever he could, performing in shopping mall ice shows and temporary rinks.
Tanpa arena seluncur yang bisa disebut rumah, Yuzuru mendapati dirinya berlatih di mana pun dia bisa, tampil di pertunjukan es pusat perbelanjaan dan arena seluncur sementara.
#10
His family, like many others, lived in an evacuation center for months, facing an uncertain future.
Keluarganya, seperti banyak orang lainnya, tinggal di pusat evakuasi selama berbulan-bulan, menghadapi masa depan yang tidak pasti.
#11
The challenges were immense, and he even considered quitting skating altogether, questioning his path.
Tantangannya sangat besar, dan dia bahkan mempertimbangkan untuk berhenti bermain skating sama sekali, mempertanyakan jalannya.
#12
It was a dark time, with no easy answers, but deep down, his passion still burned.
Itu adalah masa yang kelam, tanpa jawaban yang mudah, tetapi jauh di lubuk hati, semangatnya masih membara.
#13
he would continue skating, not just for himself, but to represent the people of Sendai.
Dia akan terus berseluncur, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk mewakili masyarakat Sendai.
#14
He wanted to bring hope and inspiration to his devastated city, becoming a symbol of resilience.
Dia ingin membawa harapan dan inspirasi bagi kotanya yang hancur, menjadi simbol ketangguhan.
#15
To further his training, he moved to Toronto, Canada, to work with the legendary coach Brian Orser.
Untuk meningkatkan pelatihannya lebih lanjut, ia pindah ke Toronto, Kanada, untuk bekerja dengan pelatih legendaris Brian Orser.
#16
This dedication showed his commitment to his sport and his desire to make a difference in the world.
Dedikasi ini menunjukkan komitmennya terhadap olahraganya dan keinginannya untuk membuat perbedaan di dunia.