Malala: The Girl Who Said NoMalala: Gadis yang Berkata Tidak
Pratinjau Audio Lengkap
0:00
0:00
#1
Malala Yousafzai's story began in Pakistan's Swat Valley, a place of stunning natural beauty.
Kisah Malala Yousafzai dimulai di Lembah Swat, Pakistan, sebuah tempat dengan keindahan alam yang menakjubkan.
#2
Her father, Ziauddin, believed that every child, regardless of gender, deserved a quality education.
Ayahnya, Ziauddin, percaya bahwa setiap anak, tanpa memandang jenis kelamin, layak mendapatkan pendidikan yang berkualitas.
#3
He ran a school where Malala thrived, developing a deep love for learning and books.
Ia mengelola sebuah sekolah tempat Malala tumbuh dengan baik, di mana ia memupuk kecintaan yang mendalam terhadap pembelajaran dan buku.
#4
Young Malala dreamed of a bright future, perhaps as a doctor or even a politician.
Malala muda memimpikan masa depan yang cerah, mungkin sebagai dokter atau bahkan politisi.
#5
The beauty of Swat Valley was shattered when the Taliban arrived and seized control.
Ketika Taliban datang dan merebut kendali, keindahan Lembah Swat hancur berkeping-keping.
#6
They banned many things, including music, television, and, most tragically, education for girls.
Mereka melarang banyak hal, termasuk musik, televisi, dan yang paling tragis, pendidikan bagi anak perempuan.
#7
Schools were bombed, and fear spread like a dark cloud across the valley.
Sekolah-sekolah dibom, dan ketakutan menyebar seperti awan gelap di seluruh lembah.
#8
Malala watched as her classmates became too afraid to attend school, disappearing one by one.
Malala menyaksikan teman-teman sekelasnya menjadi terlalu takut untuk pergi ke sekolah, menghilang satu per satu.
#9
At just eleven years old, Malala began writing an anonymous blog for the BBC.
Pada usia baru sebelas tahun, Malala mulai menulis blog anonim untuk BBC.
#10
She used the blog to describe what life was like under the oppressive Taliban rule.
Dia menggunakan blog tersebut untuk menggambarkan seperti apa kehidupan di bawah kekuasaan Taliban yang menindas.
#11
Malala wrote about her fear, her anger, and her unwavering desire to continue her education.
Malala menulis tentang ketakutannya, kemarahannya, dan keinginannya yang tak tergoyahkan untuk melanjutkan pendidikannya.
#12
Her powerful words attracted worldwide attention, giving voice to the voiceless.
Kata-katanya yang kuat menarik perhatian dunia, menyuarakan mereka yang tak bersuara.
#13
October 9, 2012, became a day that would forever change Malala's life and the world.
9 Oktober 2012 menjadi hari yang selamanya mengubah hidup Malala dan dunia.
#14
A Taliban gunman stopped Malala's school bus, his face hidden behind a mask.
Seorang pria bersenjata Taliban menghentikan bus sekolah Malala, wajahnya tersembunyi di balik masker.
#15
He chillingly asked, 'Who is Malala?' before firing a shot that struck her in the head.
Dia bertanya dengan dingin, "Siapa Malala?" sebelum melepaskan tembakan yang mengenai kepalanya.
#16
Fifteen-year-old Malala was in critical condition, and the world watched in stunned silence.
Malala yang berusia lima belas tahun berada dalam kondisi kritis, dan dunia menyaksikan dalam keheningan yang mencekam.