Haruki Murakami: The Jazz Bar WriterHaruki Murakami: Penulis Bar Jazz
Pratinjau Audio Lengkap
0:00
0:00
#1
In his twenties, Haruki Murakami ran a small jazz bar in Tokyo called 'Peter Cat'.
Di usia dua puluhan, Haruki Murakami mengelola sebuah bar jazz kecil di Tokyo yang bernama "Peter Cat".
#2
He and his wife served coffee, mixed cocktails, and played vinyl records for their customers.
Dia dan istrinya menyajikan kopi, meracik koktail, dan memutar piringan hitam untuk pelanggan mereka.
#3
The bar was Murakami's life, but it barely made enough money for them to survive.
Bar ini adalah segalanya bagi Murakami, tetapi uang yang dihasilkan hanya cukup bagi mereka untuk bertahan hidup.
#4
Murakami had no plans to become a writer; his days were filled with music and tending bar.
Murakami saat itu tidak punya rencana untuk menjadi penulis; hari-harinya diisi dengan musik dan mengelola bar.
#5
Writing novels was the furthest thing from his mind during those busy years.
Selama tahun-tahun yang sibuk itu, menulis novel adalah hal terakhir yang ada dalam pikirannya.
#6
Everything changed on April 1, 1978, at a baseball game.
Pada 1 April 1978, di sebuah pertandingan bisbol, segalanya berubah.
#7
While he was watching the game, something extraordinary happened.
Saat dia sedang menonton pertandingan, sesuatu yang luar biasa terjadi.
#8
When the batter hit a clean double, Murakami experienced an epiphany.
Saat pemukul memukul double yang bersih, Murakami mengalami sebuah epifani.
#9
He suddenly knew, with absolute certainty, that he could write a novel.
Dia tiba-tiba tahu, dengan keyakinan mutlak, bahwa dia bisa menulis sebuah novel.
#10
That night, filled with inspiration, he went home and began writing.
Malam itu, dengan penuh inspirasi, dia pulang ke rumah dan mulai menulis.
#11
After closing the bar each night, Murakami sat at his kitchen table.
Setelah menutup bar setiap malam, Murakami duduk di meja dapurnya.
#12
He wrote until dawn, fueled by coffee and a newfound passion.
Ia menulis hingga fajar, didorong oleh kopi dan gairah yang baru ditemukan.
#13
His first novel, 'Hear the Wind Sing,' won a prestigious newcomer's prize.
Novel pertamanya, 'Dengarlah Nyanyian Angin,' memenangkan penghargaan pendatang baru yang bergengsi.
#14
After winning the prize, he made a big decision: he sold the bar.
Setelah memenangkan penghargaan, dia membuat keputusan besar: dia menjual bar tersebut.
#15
Murakami then became a full-time writer, dedicating himself to his craft.
Murakami kemudian menjadi penulis penuh waktu, mendedikasikan dirinya pada karyanya.