J.K. Rowling: The Train That Changed EverythingJ.K. Rowling: Kereta yang Mengubah Segalanya
Pratinjau Audio Lengkap
0:00
0:00
#1
In 1990, Joanne Rowling was on a train, but it was delayed between Manchester and London.
Pada tahun 1990, Joanne Rowling sedang berada di kereta api, tetapi kereta tersebut tertunda di antara Manchester dan London.
#2
She was staring out the window when suddenly, an idea sparked in her mind.
Dia sedang menatap ke luar jendela ketika tiba-tiba, sebuah ide muncul di benaknya.
#3
She imagined a young boy, a wizard, who didn't even know his own magical potential.
Dia membayangkan seorang anak laki-laki, seorang penyihir, yang bahkan tidak mengetahui potensi sihirnya sendiri.
#4
That single moment of inspiration on the delayed train gave birth to the entire Harry Potter story.
Momen inspirasi tunggal di kereta yang terlambat itu melahirkan seluruh kisah Harry Potter.
#5
Tragedy struck when Joanne's mother passed away, causing immense grief.
Ketika ibu Joanne meninggal dunia, tragedi melanda, menyebabkan kesedihan yang mendalam.
#6
She moved to Portugal, where she married and had a daughter.
Dia pindah ke Portugal, di mana dia menikah dan memiliki seorang putri.
#7
However, her marriage quickly fell apart, leading to divorce.
Namun, pernikahannya segera hancur, yang akhirnya berujung pada perceraian.
#8
Joanne returned to Edinburgh, Scotland, a struggling single parent with no job and very little money.
Joanne kembali ke Edinburgh, Skotlandia, seorang orang tua tunggal yang berjuang tanpa pekerjaan dan hanya memiliki sedikit uang.
#9
Joanne lived on government welfare, finding it difficult to even afford heating for her home.
Joanne hidup dari tunjangan pemerintah, dan merasa sulit bahkan untuk membayar biaya pemanas di rumahnya.
#10
She later described herself as 'the biggest failure I knew,' during this difficult period.
Selama masa sulit itu, dia kemudian menggambarkan dirinya sebagai "orang paling gagal yang pernah saya kenal".
#11
Despite the hardship, she remained determined to write her story.
Terlepas dari kesulitan yang ada, dia tetap bertekad untuk menulis kisahnya.
#12
Joanne kept writing Harry Potter in Edinburgh cafés while her baby daughter slept peacefully beside her.
Joanne terus menulis Harry Potter di kafe-kafe Edinburgh sementara putrinya yang masih bayi tidur dengan nyenyak di sampingnya.
#13
Joanne finally finished her manuscript and bravely sent it to numerous publishers.
Joanne akhirnya menyelesaikan manuskripnya dan dengan berani mengirimkannya ke banyak penerbit.
#14
One after another, twelve publishers rejected her work, crushing her hopes each time.
Satu demi satu, dua belas penerbit menolak karyanya, menghancurkan harapannya setiap kali.
#15
Some publishers said that children's books about wizards simply wouldn't sell in the market.
Beberapa penerbit mengatakan bahwa buku anak-anak tentang penyihir tidak akan laku di pasaran.
#16
Despite the repeated rejections, Joanne refused to give up on her dream and her story.
Meskipun menghadapi penolakan berulang kali, Joanne menolak untuk menyerah pada impian dan kisahnya.