Tadao Ando: The Self-Made ArchitectTadao Ando: Arsitek Otodidak
Pratinjau Audio Lengkap
0:00
0:00
#1
Tadao Ando's story began in a working-class district of Osaka, Japan.
Kisah Tadao Ando dimulai di sebuah distrik kelas pekerja di Osaka, Jepang.
#2
He was raised primarily by his grandmother, instilling in him a strong sense of independence.
Dia dibesarkan terutama oleh neneknya, menanamkan dalam dirinya rasa kemandirian yang kuat.
#3
Tadao never attended architecture school; he was entirely self-taught.
Tadao Ando tidak pernah menempuh pendidikan di sekolah arsitektur; dia sepenuhnya belajar secara otodidak.
#4
As a teenager, he even worked as a truck driver, navigating the bustling city streets.
Saat remaja, ia bahkan bekerja sebagai sopir truk, menavigasi jalanan kota yang ramai.
#5
He also became a professional boxer, learning discipline and resilience in the ring.
Dia juga menjadi petinju profesional, mempelajari disiplin dan ketangguhan di atas ring.
#6
Tadao discovered the world of architecture by chance in a secondhand bookshop.
Tadao Ando menemukan dunia arsitektur secara kebetulan di sebuah toko buku bekas.
#7
He was so fascinated by the work of Le Corbusier that it changed his life.
Dia begitu terpesona oleh karya Le Corbusier sehingga hal itu mengubah hidupnya.
#8
He started traveling across Europe, Africa, and the United States to see famous buildings.
Dia mulai bepergian melintasi Eropa, Afrika, dan Amerika Serikat untuk melihat bangunan-bangunan terkenal.
#9
He learned by observing, sketching, and experiencing architecture firsthand.
Ia belajar dengan mengamati, mensketsa, dan mengalami arsitektur secara langsung.
#10
In this way, Tadao became a self-educated architect, driven by his own curiosity.
Dengan cara ini, Tadao menjadi arsitek yang belajar mandiri, didorong oleh rasa ingin tahunya sendiri.
#11
Without a formal architecture degree, no established firm would hire Tadao.
Tanpa gelar arsitektur formal, tidak ada firma mapan yang mau mempekerjakan Tadao.
#12
So, in 1969, he opened his own architecture studio in Osaka.
Jadi, pada tahun 1969, ia membuka studio arsitekturnya sendiri di Osaka.
#13
The architecture establishment looked down on him, seeing him as an outsider.
Kalangan mapan di dunia arsitektur meremehkannya, menganggapnya sebagai orang luar.
#14
They saw him as just a former boxer with no formal training.
Mereka memandangnya hanya sebagai mantan petinju tanpa pelatihan formal.
#15
He had to prove them all wrong, demonstrating his talent and vision.
Dia harus membuktikan bahwa mereka semua salah, dengan menunjukkan bakat dan visinya.