Marie Curie: The Girl Who Loved ScienceMarie Curie: Gadis yang Mencintai Sains
Pratinjau Audio Lengkap
0:00
0:00
#1
Maria Sklodowska was born in Warsaw, Poland, a city then occupied by Russia.
Maria Sklodowska lahir di Warsawa, Polandia, sebuah kota yang saat itu diduduki oleh Rusia.
#2
Education for Polish people, especially women, was often forbidden.
Pendidikan bagi orang Polandia, terutama perempuan, sering kali dilarang pada saat itu.
#3
But Maria had a burning desire to learn, so she studied secretly.
Tetapi Maria memiliki keinginan yang kuat untuk belajar, jadi dia belajar secara sembunyi-sembunyi.
#4
These clandestine lessons took place in private homes, part of a 'floating university' fueled by determination.
Pelajaran rahasia ini berlangsung di rumah-rumah pribadi, bagian dari "universitas terapung" yang didorong oleh tekad.
#5
Marie and her sister Bronya made a pact to support each other's dreams.
Marie dan saudara perempuannya Bronya membuat kesepakatan untuk saling mendukung impian masing-masing.
#6
Marie would work as a governess to fund Bronya's medical studies in Paris.
Marie akan bekerja sebagai guru privat untuk membiayai studi kedokteran Bronya di Paris.
#7
After Bronya finished, she would then support Marie's education.
Setelah Bronya selesai, dia kemudian akan mendukung pendidikan Marie.
#8
For five long years, Marie worked tirelessly, sacrificing her own ambitions and carefully saving every coin.
Selama lima tahun yang panjang, Marie bekerja tanpa lelah, mengorbankan ambisinya sendiri dan dengan hati-hati menabung setiap koin.
#9
At the age of 24, Marie finally arrived in Paris, ready to begin her studies.
Pada usia 24 tahun, Marie akhirnya tiba di Paris, siap untuk memulai studinya.
#10
She enrolled at the Sorbonne to study physics, attending every lecture hall.
Dia mendaftar di Universitas Sorbonne untuk belajar fisika, menghadiri setiap ruang kuliah.
#11
Her attic room was freezing in the winter, and she was often too poor to eat properly.
Kamar lotengnya sangat dingin di musim dingin, dan dia sering kali terlalu miskin untuk makan dengan layak.
#12
Despite the poverty, Marie was happy; she was finally free to learn.
Meskipun miskin, Marie bahagia; dia akhirnya bebas untuk belajar.
#13
In Paris, Marie met Pierre Curie, a brilliant but quiet French physicist.
Di Paris, Marie bertemu Pierre Curie, seorang fisikawan Prancis yang cerdas namun pendiam.
#14
They quickly bonded over their shared passion for science and research.
Mereka dengan cepat menjalin ikatan karena semangat yang sama terhadap sains dan penelitian.
#15
Pierre proposed marriage, recognizing a kindred spirit in Marie.
Pierre melamar pernikahan, karena melihat jiwa yang sehati dalam diri Marie.
#16
They married in a simple ceremony, and Marie wore a practical dark blue dress that she could also wear in the laboratory.
Mereka menikah dalam upacara sederhana, dan Marie mengenakan gaun biru tua praktis yang juga bisa dia kenakan di laboratorium nanti.