Reading NewsMembaca Berita
Pratinjau Audio Lengkap
0:00
0:00
#1
New Study Reveals That Most Adults Struggle to Identify Bias in Online News
Studi baru mengungkapkan bahwa sebagian besar orang dewasa kesulitan mengidentifikasi bias dalam berita online
#2
A major international study published this week has found that nearly sixty percent of adults cannot reliably distinguish between factual reporting and opinion-based news articles.
Sebuah studi internasional besar yang diterbitkan minggu ini menemukan bahwa hampir enam puluh persen orang dewasa tidak dapat secara andal membedakan antara laporan faktual dan konten berbasis opini.
#3
The research, conducted by the Global Media Literacy Institute, surveyed over forty thousand participants across twenty-three countries.
Penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Literasi Media Global ini mensurvei lebih dari empat puluh ribu peserta dari dua puluh tiga negara.
#4
Researchers noted that the inability to fact-check information properly has become a growing concern in the digital age.
Para peneliti mencatat bahwa ketidakmampuan memverifikasi informasi dengan benar telah menjadi kekhawatiran yang semakin meningkat di era digital.
#5
According to the study's lead author, Dr. Helena Voss, many readers tend to trust a headline without examining the source behind it.
Menurut Dr. Helena Voss, penulis utama studi tersebut, banyak pembaca cenderung memercayai judul tanpa memeriksa sumbernya.
#6
She explained that people often share articles on social media within seconds of reading only the title.
Dia menjelaskan bahwa orang sering membagikan artikel di media sosial dalam hitungan detik setelah hanya membaca judulnya.
#7
This behaviour, she warned, has contributed significantly to the rapid spread of misinformation worldwide.
Dia memperingatkan bahwa perilaku ini telah berkontribusi secara signifikan terhadap penyebaran informasi yang menyesatkan secara cepat di seluruh dunia.
#8
The study also revealed that younger participants, particularly those aged eighteen to twenty-five, were more likely to recognize bias in news content.
Studi tersebut juga mengungkapkan bahwa peserta yang lebih muda, terutama mereka yang berusia antara 18 hingga 25 tahun, lebih mungkin untuk mengenali bias dalam konten berita.
#9
However, even among this age group, fewer than half had ever used a dedicated fact-check website to verify a claim.
Namun, bahkan di antara kelompok usia ini, kurang dari separuh yang pernah menggunakan situs web cek fakta khusus untuk memverifikasi suatu klaim.
#10
Experts believe that media literacy education should be introduced much earlier in school curricula to address this gap.
Para ahli percaya bahwa pendidikan literasi media harus diperkenalkan lebih awal dalam kurikulum sekolah untuk mengatasi kesenjangan ini.
#11
Several governments have already responded to the findings by announcing new digital literacy programmes.
Beberapa pemerintah negara telah menanggapi temuan tersebut dengan mengumumkan program literasi digital baru.
#12
In Finland, which has long been considered a leader in media education, students are taught from primary school how to evaluate a source critically.
Di Finlandia, yang telah lama dianggap sebagai pemimpin dalam pendidikan media, siswa diajarkan sejak sekolah dasar cara mengevaluasi sumber secara kritis.
#13
Other countries, including Canada and Australia, have pledged to develop similar initiatives by the end of next year.
Negara-negara lain, termasuk Kanada dan Australia, telah berjanji untuk mengembangkan inisiatif serupa pada akhir tahun depan.
#14
Dr. Voss concluded that everyone has a personal responsibility to question what they read online before sharing it with others.
Dr. Voss menyimpulkan bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab pribadi untuk mempertanyakan apa yang mereka baca secara daring sebelum membagikannya kepada orang lain.
#15
She recommended that readers should always check multiple sources and look for evidence of bias in any given article.
Dia menyarankan agar pembaca harus selalu memeriksa berbagai sumber dan mencari bukti bias dalam artikel apa pun.
#16
By the time the next report is published in two years, the researchers hope that significant improvements will have been made.
Pada saat laporan berikutnya diterbitkan dalam dua tahun, para peneliti berharap kemajuan signifikan telah dicapai pada saat itu.