The Three Little Ducks: Building Our HomesTiga Bebek Kecil: Membangun Rumah Kami
Pratinjau Audio Lengkap
0:00
0:00
#1
Once upon a time, there were three little ducks who lived with their mother by a big, blue pond.
Dahulu kala, ada tiga anak bebek yang tinggal bersama ibu mereka di tepi kolam biru yang besar.
#2
One sunny morning, Mother Duck had something important to say.
Pada suatu pagi yang cerah, Ibu Bebek memiliki sesuatu yang penting untuk dikatakan.
#3
"My dear children, you are all grown up now. It is time for you to build your own nests," says Mother Duck.
"Anak-anakku sayang, kalian semua sudah dewasa sekarang. Sudah waktunya bagi kalian untuk membangun sarang kalian sendiri," kata Ibu Bebek.
#4
The three little ducks were very excited. Their names were Gaga, Bubbles, and Loopy.
Ketiga anak bebek itu sangat bersemangat. Nama mereka adalah Gaga, Bubbles, dan Loopy.
#5
Gaga was the first little duck. He loved to play all day long.
Gaga adalah bebek kecil pertama. Dia suka bermain sepanjang hari.
#6
"I will build my nest with straw. It is easy and fast!" says Gaga.
"Aku akan membangun sarangku dengan jerami. Ini mudah dan cepat!" kata Gaga.
#7
So Gaga picked up some straw from the field. He put the straw together very quickly. In just one hour, his nest was done.
Maka Gaga memungut beberapa jerami dari ladang. Dia menyatukan jerami itu dengan sangat cepat. Hanya dalam satu jam, sarangnya sudah jadi.
#8
"Finished! Now I can go swimming!" says Gaga.
"Selesai! Sekarang aku bisa pergi berenang!" kata Gaga.
#9
And off he went to the pond. Splash!
Lalu dia pergi ke kolam. Byur!
#10
Bubbles was the second little duck. She liked to sing and dance.
Bubbles adalah anak bebek kedua. Dia suka menyanyi dan menari.
#11
"I will build my nest with sticks. It is not too hard," says Bubbles.
“Aku akan membangun sarangku dengan ranting. Ini tidak terlalu sulit,” kata Bubbles.
#12
So Bubbles collected sticks from under the trees. She put the sticks together, one by one. By lunchtime, her nest was done.
Jadi Bubbles mengumpulkan ranting-ranting dari bawah pohon. Dia menyatukan ranting-ranting itu satu per satu. Menjelang waktu makan siang, sarangnya sudah jadi.
#13
"Wonderful! Now I can go play with Gaga!" says Bubbles.
"Luar biasa! Sekarang aku bisa pergi bermain dengan Gaga!" kata Bubbles.
#14
And off she went to the pond. Splash, splash!
Lalu dia pergi ke kolam. Biur, biur!
#15
Loopy was the third little duck. He was a little clumsy, but he always tried his best.
Loopy adalah anak bebek ketiga. Dia sedikit kikuk, tetapi dia selalu berusaha sebaik mungkin.
#16
"I will build my nest with bricks. It will take a long time, but it will be very strong," says Loopy.
"Aku akan membangun sarangku dengan batu bata. Ini akan memakan waktu lama, tapi akan sangat kokoh," kata Loopy.
#17
"Bricks? That is too much work, Loopy!" says Gaga.
"Batu bata? Itu terlalu merepotkan, Loopy!" kata Gaga.
#18
But Loopy did not listen. He carried the bricks one by one. He worked all morning. He worked all afternoon. He even worked after dinner, under the moonlight.
Tapi Loopy tidak mendengarkan. Dia membawa batu bata satu per satu. Dia bekerja sepanjang pagi. Dia bekerja sepanjang sore. Dia bahkan bekerja setelah makan malam, di bawah sinar rembulan.
#19
Finally, after three days, his nest was done. It had strong walls, a warm roof, and a little door that locked from the inside.
Akhirnya, setelah tiga hari, sarangnya selesai. Sarang itu memiliki dinding yang kokoh, atap yang hangat, dan pintu kecil yang bisa dikunci dari dalam.
#20
"It is not pretty, but it is safe," says Loopy.
"Ini tidak cantik, tapi aman," kata Loopy.
#21
Now, in the dark forest near the pond, there lived a sneaky fox. Everyone called him Mr. Red, because of his bright red fur.
Sekarang, di hutan gelap dekat kolam, hiduplah seekor rubah yang licik. Semua orang memanggilnya Mr. Red, karena bulunya yang berwarna merah cerah.
#22
Mr. Red was always hungry. He loved to eat eggs, and he loved to eat ducks even more.
Mr. Red selalu lapar. Dia suka makan telur, dan dia bahkan lebih suka makan bebek.
#23
One cold evening, Mr. Red smelled something delicious. He followed his nose — sniff, sniff, sniff — all the way to Gaga's straw nest.
Suatu sore yang dingin, Mr. Red mencium sesuatu yang lezat. Dia mengikuti hidungnya — endus, endus, endus — sampai ke sarang jerami Gaga.