EN: Passive Voice in the Past Simple ('was/were + past participle'): Used to describe an action that happened to the subject in the past, often emphasizing the victim or result rather than the perpetrator.
Bahasa Indonesia: Kalimat pasif simple past (was/were + past participle): digunakan untuk mendeskripsikan tindakan yang terjadi pada subjek di masa lalu, sering digunakan untuk menekankan korban atau hasil peristiwa, bukan pelaku.
The cyclist was injured in an accident on Friday evening.
Pengendara sepeda ini terluka dalam sebuah kecelakaan pada Jumat sore.
EN: Past Participle as a Reduced Relative Clause: 'called Nathaniel Mortley' functions as a reduced form of 'who was called Nathaniel Mortley', post-modifying the noun phrase 'a 16-year-old'.
Bahasa Indonesia: Frasa past participle sebagai modifikator di belakang (penyederhanaan klausa relatif): 'called Nathaniel Mortley' adalah bentuk sederhana dari 'who was called Nathaniel Mortley', digunakan untuk memodifikasi frasa nomina di depannya 'a 16-year-old'.
A student called Liam won the science competition.
Seorang siswa bernama Liam memenangkan kompetisi sains.
EN: In the UK, 'knife crime' involving teenagers has been a significant social and policing issue, particularly in urban areas like south London. Community street festivals are popular summer events, but can occasionally become flashpoints for youth violence.
Bahasa Indonesia: Di Inggris, 'kejahatan pisau' (knife crime) yang melibatkan remaja telah lama menjadi isu sosial dan keamanan yang serius, terutama di daerah perkotaan seperti London selatan. Festival jalanan meskipun merupakan acara komunitas yang umum di musim panas, terkadang juga mudah menjadi pemicu konflik kekerasan di kalangan remaja.
EN: The past perfect tense ('had' + past participle 'received') is used to describe an action that happened before another past event (in this context, being attacked in 2010). The adverb 'just' emphasizes that it happened very recently before that reference point.
Bahasa Indonesia: Past perfect (had + past participle received) digunakan untuk menyatakan tindakan yang telah selesai sebelum titik waktu tertentu di masa lampau (di sini, serangan pada tahun 2010). Adverbia 'just' menekankan bahwa tindakan itu baru saja terjadi sesaat sebelum waktu tersebut.
She had just finished her homework when the lights went out.
Saat lampu padam, dia baru saja selesai mengerjakan pekerjaan rumahnya.
EN: The past continuous tense ('was' + '-ing' verb 'planning') is used here to describe an ongoing state of mind, intention, or future arrangement that existed around that specific time in the past.
Bahasa Indonesia: Past continuous (was + present participle planning) digunakan di sini untuk menggambarkan keadaan mental, niat, atau rencana masa depan yang sedang berlangsung pada saat tertentu di masa lampau.
They were planning to travel abroad before the trip was cancelled.
Sebelum perjalanan dibatalkan, mereka tadinya sedang berencana untuk pergi ke luar negeri.
EN: In the UK education system, 'GCSEs' (General Certificate of Secondary Education) are key exams taken at age 16 (Year 11). Most students take 8 to 10 GCSEs, so achieving excellent grades in 14 is exceptionally impressive. 'A-levels' (Advanced Levels) are subject-based qualifications taken at age 18 to gain university entry; students typically take only 3 or 4, making Mortley's plan to take 5 a sign of extraordinary academic ambition.
Bahasa Indonesia: Dalam sistem pendidikan Inggris, 'GCSE' (Sertifikat Pendidikan Menengah Umum) adalah ujian penting yang diambil siswa pada usia 16 tahun (setara kelas 10), biasanya mengambil 8-10 mata pelajaran. Mendapat nilai sangat baik di 14 mata pelajaran sangatlah langka dan luar biasa. 'A-levels' (Ujian Tingkat Lanjut) adalah program dan ujian pra-universitas untuk usia 16-18 tahun, sebagian besar siswa hanya mengambil 3-4 mata pelajaran. Rencana Mottley untuk mengambil 5 mata pelajaran menunjukkan ambisi akademisnya yang luar biasa saat itu.
EN: The double genitive (or 'double possessive') pattern 'a friend of his girlfriend' combines 'of' with a possessive form (or here, a noun phrase specifying the possessor) to indicate one of several friends.
Bahasa Indonesia: Struktur kepemilikan ganda 'a friend of + kata benda' berarti 'salah satu teman dari...', menekankan bahwa orang tersebut memiliki banyak teman dan ini adalah salah satunya.
He met a colleague of his brother at the party.
Dia bertemu salah seorang rekan kerja kakaknya di pesta.
EN: The relative adverb 'where' introduces a non-defining relative clause, adding descriptive background information about the location mentioned in the main clause ('a street').
Bahasa Indonesia: Adverbia relatif 'where' memperkenalkan klausa relatif non-restriktif untuk menjelaskan lebih lanjut tentang anteseden 'a street' (sebuah jalan) mengenai situasi yang terjadi di tempat tersebut.
We stayed at a quiet hotel, where we could relax completely.
Kami menginap di hotel yang tenang, di mana kami bisa bersantai sepenuhnya.
EN: In the UK, 'knife crime' involving teenage gangs has been a serious public concern, particularly in major cities like London. The setup described—being lured to an ambush by an acquaintance—reflects a tragic reality of street violence in certain urban areas.
Bahasa Indonesia: Di Inggris, 'kejahatan pisau' yang melibatkan geng remaja selalu menjadi masalah sosial yang serius, terutama di kota-kota besar seperti London. Situasi yang digambarkan dalam kalimat tentang memikat seseorang melalui kenalan ke lokasi tertentu untuk penyergapan mencerminkan kekhawatiran nyata tentang kekerasan jalanan setempat.
EN: Compound sentence with coordinating conjunction 'and': Two independent clauses are joined by 'and' to show chronological sequence. The second clause uses passive voice ('was called') because the caller is unspecified or unimportant.
Bahasa Indonesia: Kalimat majemuk dengan konjungsi koordinatif 'and': menghubungkan dua klausa independen dengan 'and' untuk menyatakan urutan kejadian. Separuh kedua menggunakan kalimat pasif (was called) karena orang yang memanggil ambulans tidak diketahui atau bukan fokus kalimat.
He slipped on the ice, and a doctor was called immediately.
Dia tergelincir di atas es, dan seseorang segera memanggil dokter.
EN: Infinitive of purpose ('to take him to hospital'): The 'to + verb' structure functions as an adverbial modifier indicating the goal or purpose of calling the ambulance. Note that in British English, 'to hospital' is commonly used without the article 'the' when referring to receiving medical care.
Bahasa Indonesia: Infinitif yang menyatakan tujuan (to take him to hospital): 'to + kata kerja dasar' di sini berfungsi sebagai keterangan adverbial, menyatakan tujuan memanggil ambulans. Perlu diperhatikan bahwa dalam bahasa Inggris Britania, 'to hospital' biasanya tidak menggunakan artikel 'the' untuk menunjukkan pergi berobat.
She ran out to catch the bus.
Dia berlari keluar untuk mengejar bus.
EN: In British English, speakers say 'go to hospital' or 'take someone to hospital' without the definite article 'the' when referring to being hospitalized or receiving medical treatment, similar to 'go to school' or 'go to church'. In contrast, American English typically includes the article: 'go to the hospital'.
Bahasa Indonesia: Dalam bahasa Inggris Britania, ketika mengungkapkan pergi untuk berobat atau dirawat di rumah sakit, biasanya menghilangkan kata sandang tentu 'the', diucapkan 'go to hospital' atau 'take someone to hospital', mirip dengan 'go to school' (pergi ke sekolah) atau 'go to church' (pergi ke gereja); sedangkan bahasa Inggris Amerika biasanya menambahkan kata sandang tentu menjadi 'go to the hospital'.
EN: The present perfect passive ('have been' + past participle) is used here to describe an action that occurred at an unspecified time in the recent past whose effects are felt in the present moment.
Bahasa Indonesia: Bentuk pasif present perfect (have/has been + past participle) digunakan di sini untuk menggambarkan tindakan pasif yang baru saja terjadi dan dampaknya berlanjut hingga saat ini ('saya ditikam').
I think the window has been broken.
Saya rasa jendela telah dipecahkan seseorang.
EN: Non-defining relative clauses using 'who' provide extra, non-essential information about a person. They are separated by commas and cannot use 'that'.
Bahasa Indonesia: Klausa relatif non-restriktif menggunakan 'who' untuk memberikan informasi tambahan tentang anteseden (orang), harus dipisahkan dengan koma di kedua sisinya, dan tidak dapat diganti dengan 'that' di sini.
He spoke to the manager, who agreed to refund his money.
Dia berbicara dengan manajer, dan manajer setuju untuk mengembalikan uangnya.
EN: In British culture, a 'pub' (public house) serves as a central community hub. If someone is injured or in trouble on the street, seeking shelter in a local pub where staff ('behind the bar') can assist and call emergency services is very common.
Bahasa Indonesia: Dalam budaya Inggris, pub adalah tempat interaksi utama komunitas. Ketika seseorang dalam bahaya atau terluka di jalan, berlari ke pub terdekat untuk meminta bantuan adalah hal yang umum. Staf bar (behind the bar) biasanya membantu memberikan perlindungan dan memanggil polisi atau ambulans.
EN: A preposition followed by a gerund or noun phrase (such as 'of opening a restaurant') is often used after nouns like 'dream', 'idea', or 'hope' as an appositive/complement defining what the noun involves.
Bahasa Indonesia: Kata benda (seperti dream, idea, hope) sering diikuti oleh "of + gerund (V-ing) atau frasa kata benda", sebagai modifikasi apositif atau penjelas tambahan untuk konten spesifik dari kata benda tersebut.
Her dream of becoming an astronaut came true after years of training.
Setelah bertahun-tahun berlatih, mimpinya menjadi astronot akhirnya terwujud.
EN: The linking verb 'seem' followed by a to-infinitive ('seemed to disappear') expresses an impression or appearance, indicating that something appeared to be the case based on evidence or perception.
Bahasa Indonesia: Kata kerja penghubung seem diikuti oleh infinitif (to + kata kerja bentuk dasar), yaitu "seemed to + V", digunakan untuk mengekspresikan "sepertinya..." atau "tampaknya...", menggambarkan perasaan atau pengamatan subjektif berdasarkan situasi eksternal.
All their problems seemed to vanish once the rain stopped.
Begitu hujan berhenti, semua masalah mereka tampaknya hilang.
EN: Passive Voice in the Past Simple ('was sent'): Formed with 'was/were' + past participle. It indicates that the action happened to the subject rather than the subject performing it. 'Be sent to jail' is a common passive idiom meaning to be imprisoned.
Bahasa Indonesia: Bentuk pasif simple past (was sent) terdiri dari 'was/were + past participle', menunjukkan bahwa subjek adalah penerima tindakan, bukan pelaku. 'be sent to jail' adalah frasa umum yang berarti 'dikirim ke penjara/dipenjara'.
He was sent to prison for three years after the trial.
Setelah persidangan selesai, dia dijatuhi hukuman penjara tiga tahun.
EN: Prepositional Phrase 'behind bars': An idiomatic expression functioning as an adverbial phrase of place, meaning 'in prison' or 'incarcerated'. The 'bars' refer literally to the iron bars of a jail cell.
Bahasa Indonesia: Frasa preposisi 'behind bars' adalah idiom, digunakan sebagai frasa keterangan tempat, arti harfiahnya 'di balik jeruji besi', tetapi sebenarnya berarti 'di penjara, sedang menjalani hukuman'.
The criminal will spend the rest of his life behind bars.
Penjahat itu akan menghabiskan sisa hidupnya di penjara.
EN: In British English, 'offence' is spelled with a 'c', whereas American English uses 'offense' with an 's'. Furthermore, 'behind bars' is a universally understood idiom across the English-speaking world representing incarceration, often used in journalistic writing to avoid repetitive use of the word 'prison'.
Bahasa Indonesia: Dalam bahasa Inggris Britania, 'offence' dieja -ce, sedangkan bahasa Inggris Amerika menulis 'offense' (-se). Selain itu, 'behind bars' (dipenjara, di dalam penjara) adalah idiom yang hidup dan banyak digunakan di dunia berbahasa Inggris, sering dipakai dalam laporan berita untuk menghindari pengulangan kata 'prison' atau 'jail'.
EN: "Now that" is a subordinating conjunction used to explain a new situation or cause. It means 'since' or 'because now', indicating that something has changed and this change affects the main clause.
Bahasa Indonesia: 'Now that' adalah konjungsi subordinatif yang berarti 'karena sekarang, setelah', digunakan untuk menunjukkan bahwa suatu situasi telah berubah dan menjadi penyebab atau latar belakang tindakan atau keadaan dalam klausa utama.
Now that the exams are over, we can finally relax.
Karena ujian sudah selesai, akhirnya kita bisa bersantai dengan baik.
EN: The idiom "make up for lost time" means to do something with great urgency or energy because one has missed the opportunity or wasted time in the past.
Bahasa Indonesia: Ungkapan "make up for lost time" berarti "menebus waktu yang hilang", menunjukkan usaha ekstra sekarang karena melewatkan kesempatan atau membuang waktu di masa lalu.
After being sick for two weeks, she worked overtime to make up for lost time.
Setelah sakit dua minggu, dia bekerja lembur untuk menebus waktu yang terbuang.
Kosakata utama dengan pengucapan IPA, definisi, contoh kalimat, dan kuis interaktif.
Frasa dengan label jenis, definisi dwibahasa, catatan penggunaan, dan contoh kalimat.
to do something quickly or thoroughly because you started late or missed opportunities earlier
Menebus waktu yang hilang; mengkompensasi kelalaian masa lalu
in prison or jail
Di dalam penjara; dipenjara
to physically wound someone in the back with a sharp object (or idiomatically, to betray someone)
Menusuk dari belakang (dalam artikel ini berarti harfiah; makna kiasannya adalah pengkhianatan)