EN: The Second Conditional is used to talk about hypothetical, unreal, or imaginary situations in the present or future. The structure is 'If + Subject + Past Simple (using 'were' for all subjects), Subject + would + base verb'.
Bahasa Indonesia: Kalimat pengandaian yang bertentangan dengan kenyataan sekarang (conditional type kedua) digunakan untuk menyatakan situasi hipotetis yang tidak sesuai dengan kenyataan sekarang atau hampir tidak mungkin terjadi. Strukturnya adalah "If + subjek + kata kerja bentuk lampau (untuk semua subjek, kata kerja Be selalu menggunakan were), subjek + would + kata kerja dasar".
If I were you, I would accept the job offer.
Jika saya jadi kamu, saya akan menerima tawaran pekerjaan itu.
EN: The verb 'make' is a causative verb here, used in the pattern 'make + object + adjective' to mean causing someone or something to be in a particular state.
Bahasa Indonesia: Kata kerja "make" di sini berfungsi sebagai kata kerja kausatif/tidak lengkap, menggunakan struktur "make + objek + kata sifat" untuk menyatakan "membuat seseorang atau sesuatu berada dalam keadaan tertentu".
The funny movie made everyone happy.
Film yang menarik ini membuat semua orang bahagia.
EN: The verb 'wish' is followed by a clause in the past subjunctive (simple past tense) to express a desire for a situation in the present that is contrary to reality or unlikely to happen.
Bahasa Indonesia: Kata kerja "wish" (berharap/seandainya) diikuti oleh klausa dalam past subjunctive (simple past tense) untuk menyatakan keinginan yang bertentangan dengan kenyataan sekarang atau sulit untuk diwujudkan.
I wish I knew the answer to this question.
Seandainya saya tahu jawaban dari pertanyaan ini.
EN: The infinitive 'to read' acts as an adjective (adjectival infinitive) modifying the noun 'time', indicating the purpose or use of the time.
Bahasa Indonesia: Infinitif "to read" di sini berfungsi sebagai kata sifat (adjectival infinitive) yang memodifikasi kata benda "time" (waktu), untuk menunjukkan tujuan atau fungsi dari waktu tersebut (waktu untuk membaca).
She has a lot of homework to do.
Dia punya banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan.
EN: The Second Conditional is used to talk about hypothetical, unreal, or imaginary situations in the present or future. The structure is 'If + subject + past simple (were for all subjects), subject + would + base verb'.
Bahasa Indonesia: Pengandaian yang bertentangan dengan kenyataan sekarang (tipe kedua) digunakan untuk menggambarkan situasi yang tidak mungkin atau sangat mungkin tidak terjadi pada saat ini atau masa depan. Strukturnya adalah 'If + subjek + kata kerja lampau (untuk semua subjek gunakan 'were'), subjek + would + kata kerja dasar'.
If I were rich, I would travel around the world.
Jika saya punya uang, saya akan berkeliling dunia.
EN: The phrase 'If I were you' is a common subjunctive idiom used to give advice. Even though 'I' normally takes 'was', 'were' is used here to emphasize the hypothetical nature of the advice.
Bahasa Indonesia: Frasa 'If I were you' adalah idiom subjungtif yang umum digunakan untuk memberi saran. Meskipun subjek 'I' biasanya menggunakan 'was' dalam bentuk lampau, dalam subjungtif selalu menggunakan 'were' untuk menekankan bahwa ini adalah hipotesis yang bertentangan dengan kenyataan (saya tidak mungkin benar-benar menjadi kamu).
If I were you, I would accept the job offer.
Kalau aku jadi kamu, aku akan menerima tawaran pekerjaan itu.
EN: In English-speaking cultures, giving advice using 'If I were you...' is considered polite and indirect. Instead of telling someone directly what to do (e.g., 'You should join'), this structure frames the advice as a personal perspective, making it sound less bossy.
EN: The verb 'wish' followed by a clause in the past tense (or using 'could' + base verb) is used to express a desire for something that is currently impossible or unlikely to happen in the present or future. It represents a hypothetical situation.
Bahasa Indonesia: Kata kerja 'wish' (berharap/andai) diikuti klausa, kata kerja dalam klausa menggunakan bentuk lampau (atau menggunakan 'could' + kata kerja dasar), digunakan untuk menyatakan keinginan yang sulit atau tidak mungkin terwujud pada saat ini atau masa depan, termasuk dalam subjungtif.
I wish I could play the piano like a professional.
Saya berharap saya bisa bermain piano seperti seorang profesional.
EN: The adverb 'someday' refers to an indefinite time in the future, often used to express long-term hopes, dreams, or plans.
Bahasa Indonesia: Adverbia "someday" berarti "suatu hari nanti" atau "di masa depan yang tidak tentu", biasanya digunakan untuk menyatakan harapan, impian, atau rencana jangka panjang, tanpa waktu yang spesifik.
EN: Second Conditional (Hypothetical Present/Future): Used to talk about imaginary, unlikely, or impossible situations in the present or future. The structure is 'If + Subject + Simple Past Verb, Subject + would + Base Verb'.
Bahasa Indonesia: Pengandaian yang bertentangan dengan kenyataan saat ini (conditional tipe kedua): digunakan untuk menggambarkan situasi khayalan yang tidak mungkin atau sangat kecil kemungkinannya terjadi di masa sekarang atau masa depan. Strukturnya adalah "If + subjek + kata kerja bentuk lampau, subjek + would + kata kerja dasar".
If I had his phone number, I would call him right now.
Jika saya punya nomor teleponnya, saya akan meneleponnya sekarang.
EN: Comparative Adjectives: Used to compare differences between the two objects they modify (e.g., 'bigger'). The adverb 'more' is used here to modify the verb 'study', meaning 'to a greater degree or frequency'.
Bahasa Indonesia: Kata sifat dan kata keterangan perbandingan: digunakan untuk membandingkan perbedaan antara dua hal (misalnya 'bigger'). Dalam kalimat ini, 'more' berfungsi sebagai kata keterangan yang memodifikasi kata kerja 'study', yang berarti belajar "lebih sering" atau "dengan intensitas yang lebih dalam".
If we bought a larger table, we could host more guests.
Jika kita membeli meja yang lebih besar, kita bisa menjamu lebih banyak tamu.
EN: The verb 'wish' is used with the past subjunctive (were) to express a regret or a desire for a situation in the present that is contrary to reality. Even with singular subjects like 'today', 'he', 'she', or 'it', 'were' is traditionally used in formal English.
Bahasa Indonesia: Kata kerja "wish" (berharap/seandainya) diikuti oleh klausa dalam subjunctive past (di sini menggunakan 'were') untuk menyatakan keinginan atau penyesalan yang bertentangan dengan kenyataan sekarang. Meskipun subjeknya tunggal (seperti today, he, she, it), dalam bahasa Inggris formal tetap menggunakan 'were' bukan 'was'.
I wish I were on a beach right now.
Andai saja saat ini aku sedang berbaring di pantai.
EN: The preposition 'for' is used here to indicate purpose or the reason for wanting the weather to be sunny, linking the desired state to the planned event ('our trip').
Bahasa Indonesia: Preposisi "for" di sini digunakan untuk menunjukkan tujuan atau alasan, menghubungkan keadaan cuaca yang diharapkan (cerah) dengan aktivitas yang sudah direncanakan (perjalanan kami), yang berarti "untuk".
We are preparing for the upcoming exam.
Kami sedang mempersiapkan diri untuk ujian yang akan datang.
EN: In daily conversation, many native speakers might say 'I wish today was sunny' instead of 'were'. However, 'were' remains the standard and preferred form in formal writing, exams, and traditional grammar instruction.
EN: This sentence uses the Second Conditional (subjunctive mood) to talk about hypothetical, imaginary, or impossible situations in the present or future. The structure is: 'If + Subject + Past Simple Verb, Subject + would + Base Verb'. The past tense verb 'knew' indicates that the condition is currently untrue or unlikely.
Bahasa Indonesia: Kalimat ini menggunakan "conditional type II" (subjunctive mood) untuk menyatakan situasi yang bertentangan dengan kenyataan sekarang atau masa depan, khayangkan, atau tidak mungkin terjadi. Strukturnya adalah: "If + subjek + kata kerja simple past, subjek + would + kata kerja dasar". Kata kerja lampau 'knew' di sini menunjukkan bahwa kondisi tersebut saat ini bukan kenyataan atau kemungkinan terjadinya sangat rendah.
If I had a car, I would drive to the beach.
Kalau aku punya mobil, aku akan mengendarainya ke pantai.
EN: The verb 'wish' is used to express a desire for a situation that is different from the current reality. When expressing a present wish that is contrary to fact, we use the past subjunctive. For the verb 'be', 'were' is used for all subjects (I, you, he, she, it, we, they) in formal English, although 'was' is often heard in casual speech.
Bahasa Indonesia: Kata kerja 'wish' (berharap/andai) digunakan untuk menyatakan keinginan yang berbeda dengan keadaan sekarang atau sulit terwujud. Ketika menyatakan keinginan yang 'bertentangan dengan kenyataan sekarang', klausa subordinat harus menggunakan 'subjungtif lampau'. Di antara kata kerja 'be', terlepas dari subjeknya (I, you, he, she, it, we, they), dalam bahasa Inggris formal selalu menggunakan 'were', meskipun dalam percakapan sehari-hari sering terdengar 'was'.
I wish I were taller.
Andai saja saya bisa lebih tinggi sedikit.
EN: The phrase 'be better at' is used to describe having a higher level of ability or skill in a specific subject, activity, or field. 'At' is a preposition, so it must be followed by a noun, pronoun, or gerund (V-ing).
Bahasa Indonesia: Frasa 'be better at' berarti 'lebih baik dalam' atau 'lebih mahir dalam', digunakan untuk menggambarkan peningkatan kemampuan dalam bidang, aktivitas, atau keterampilan tertentu. Kata depan 'at' harus diikuti kata benda, kata ganti, atau gerund (V-ing).
She wants to be better at playing the piano.
Dia berharap bisa lebih baik dalam bermain piano.
EN: In English-speaking cultures, expressing vulnerability about one's academic weaknesses (like math) is very common and socially acceptable. Saying 'I wish I were better at math' is a polite and humble way to acknowledge a struggle without sounding overly negative, and it often invites encouragement or shared sympathy from others.
EN: This sentence uses the Second Conditional (subjunctive mood) to talk about hypothetical, imaginary, or unlikely situations in the present or future. The structure is 'If + subject + past simple verb, subject + would + base verb'. It shows that the condition (practicing daily) is not currently true or is unlikely to happen.
Bahasa Indonesia: Kalimat ini menggunakan 'Kondisi pengandaian tipe kedua' (subjungtif) untuk menyatakan situasi yang bertentangan dengan kenyataan sekarang atau masa depan, atau yang sangat mungkin tidak terjadi. Strukturnya adalah 'If + subjek + kata kerja lampau sederhana, subjek + would + kata kerja dasar'. Ini menunjukkan bahwa kondisi (berlatih setiap hari) saat ini bukanlah kenyataan, atau kemungkinan terjadinya sangat rendah.
If she studied harder, she would pass the exam.
Kalau dia belajar lebih giat, dia akan lulus ujian.
EN: The adverb 'fast' is used here to modify the verb 'improve'. In English, 'fast' can function as both an adjective and an adverb, meaning quickly or at high speed, without adding '-ly'.
Bahasa Indonesia: Kata keterangan 'fast' di sini digunakan untuk memodifikasi kata kerja 'improve'. Dalam bahasa Inggris, 'fast' dapat digunakan sebagai kata sifat maupun kata keterangan, yang berarti 'dengan cepat', tanpa perlu menambahkan '-ly' menjadi 'fastly' (kata itu tidak ada).
He drives fast but safely.
Dia mengemudi dengan cepat tetapi aman.
EN: The verb 'wish' is used to express a desire for a situation that is different from the current reality. When wishing for a change in the present or future, we use the past subjunctive (simple past tense) in the following clause. For example, 'were' is used instead of 'are' to show that the situation is hypothetical or imaginary.
Bahasa Indonesia: Kata kerja 'wish' (berharap/andai) digunakan untuk menyatakan ketidakpuasan terhadap keadaan sekarang dan menginginkan sesuatu yang bertentangan dengan kenyataan. Ketika menyatakan keinginan yang bertentangan dengan kenyataan 'sekarang' atau 'masa depan', kata kerja dalam klausa subordinat harus menggunakan 'subjungtif lampau' (yaitu kata kerja bentuk lampau). Misalnya, di sini menggunakan 'were' bukan 'are', untuk menekankan bahwa ini adalah imajinasi yang tidak nyata.
I wish I had a car.
Andai saja saya punya mobil. (Kenyataannya sekarang tidak punya)
EN: In subjunctive mood (hypothetical situations), 'were' is traditionally used for all subjects (I, you, he, she, it, we, they), including singular nouns like 'the holiday' or plural nouns like 'the holidays'. While 'was' is common in informal spoken English for singular subjects, 'were' remains the standard in formal writing and grammatically precise contexts.
Bahasa Indonesia: Dalam subjungtif (situasi hipotetis), 'were' secara tradisional digunakan untuk semua subjek, baik tunggal maupun jamak. Meskipun dalam bahasa Inggris informal lisan, sering terdengar 'was' setelah subjek tunggal, dalam penulisan formal dan konteks yang ketat secara tata bahasa, penggunaan 'were' tetap menjadi standar.
I wish he were here with us.
Andai saja dia bersama kita sekarang.
EN: In Western culture, work-life balance is highly valued, and discussing the desire for longer holidays or vacations is a very common, lighthearted topic of small talk among colleagues and friends, especially right after a holiday ends.
EN: The Second Conditional is used to talk about hypothetical, unreal, or imaginary situations in the present or future. The structure is 'If + Subject + Past Simple (using 'were' for all subjects), Subject + would + base verb'.
Bahasa Indonesia: Kalimat pengandaian tipe kedua (hipotetis yang bertentangan dengan kenyataan sekarang) digunakan untuk menggambarkan situasi yang tidak mungkin atau murni imajinasi pada saat ini atau masa depan. Strukturnya adalah 'If + subjek + kata kerja lampau (untuk semua subjek gunakan 'were'), subjek + would + kata kerja dasar'.
If I were you, I would accept the job offer.
Kalau aku jadi kamu, aku akan menerima tawaran pekerjaan itu.
EN: The verb 'wish' is used with a past subjunctive clause (here, 'could' + base verb) to express a desire for a situation in the present or future that is contrary to reality or highly unlikely to happen.
Bahasa Indonesia: Kata kerja 'wish' (berharap/andai) diikuti klausa subjungtif lampau (di sini, 'could' + kata kerja dasar), digunakan untuk menyatakan keinginan yang bertentangan dengan kenyataan saat ini atau masa depan, atau yang sangat tidak mungkin terwujud.
I wish I could fly like a bird.
Andai saja aku bisa terbang seperti burung.
EN: The linking verb 'stay' is followed by an adjective ('young') to describe remaining in a particular state or condition.
Bahasa Indonesia: Kata kerja penghubung 'stay' (tetap) diikuti kata sifat ('young') untuk menggambarkan tetap berada dalam keadaan atau kondisi tertentu.
Please stay calm during the meeting.
Harap tetap tenang selama rapat.
EN: The desire to 'stay young forever' is a universal human theme, often found in literature, pop songs (like Alphaville's 'Forever Young'), and folklore (the Fountain of Youth). It reflects a nostalgic appreciation for youth and vitality.
EN: The sentence uses an indirect question ('how the world could be better') acting as the noun clause object of the verb 'imagine'. Unlike direct questions, indirect questions follow statement word order (subject + verb) rather than question word order.
Bahasa Indonesia: Kalimat ini menggunakan pertanyaan tidak langsung ('how the world could be better') sebagai objek dari kata kerja 'imagine' (klausa nomina). Berbeda dengan pertanyaan langsung, pertanyaan tidak langsung harus menggunakan urutan kata pernyataan (subjek + kata kerja), bukan urutan kata pertanyaan.
I wonder how we can solve this problem.
Saya ingin tahu bagaimana kita bisa memecahkan masalah ini.
EN: The modal verb 'could' is used here to express possibility or hypothetical ability in a gentle, reflective tone, rather than past ability.
Bahasa Indonesia: Kata kerja modal 'could' di sini digunakan untuk menyatakan kemungkinan atau kemampuan hipotetis, dengan nada yang lembut dan reflektif, bukan untuk menyatakan kemampuan di masa lalu.
She wondered how they could help the community.
Dia ingin tahu bagaimana mereka dapat membantu komunitas ini.
EN: Second Conditional (Hypothetical Present/Future): Used to talk about imaginary, unlikely, or impossible situations in the present or future. The structure is 'If + subject + past simple (were for all subjects), subject + would + base verb'.
Bahasa Indonesia: Pengandaian yang bertentangan dengan kenyataan sekarang (tipe kedua): Digunakan untuk menggambarkan situasi yang tidak mungkin atau tidak mungkin terjadi pada saat ini atau masa depan. Strukturnya adalah 'If + subjek + kata kerja lampau (untuk semua subjek gunakan 'were'), subjek + would + kata kerja dasar'.
If I were you, I would accept the job offer.
Kalau aku jadi kamu, aku akan menerima tawaran pekerjaan itu.
EN: In English, using 'were' instead of 'was' for the first person singular (I) in conditional sentences is a formal grammatical rule (subjunctive mood). While 'If I was' is increasingly common in casual spoken English, 'If I were' remains the standard for formal writing and professional contexts.
EN: The verb 'wish' is used with a past subjunctive clause (here, 'could' + base verb) to express a desire for a situation that is different from the current reality or is highly unlikely to happen. It expresses a present regret or an improbable future hope.
Bahasa Indonesia: Kata kerja 'wish' (berharap/andai) diikuti klausa subjungtif lampau (di sini menggunakan 'could' + kata kerja dasar), digunakan untuk menyatakan keinginan yang bertentangan dengan keadaan saat ini atau yang sangat mungkin tidak terwujud, menyampaikan penyesalan atas keadaan sekarang atau harapan yang berlebihan untuk masa depan.
I wish I could speak French fluently.
Andai aku bisa berbicara bahasa Prancis dengan lancar.
EN: The determiner 'every' is used with a singular countable noun ('child') to refer to all members of a group individually. Even though it refers to multiple people, it grammatically takes a singular noun and singular verb agreement.
Bahasa Indonesia: Kata penentu 'every' (setiap) harus diikuti kata benda tunggal yang dapat dihitung (seperti 'child') untuk merujuk secara individual kepada semua anggota dalam kelompok. Meskipun secara konsep merujuk pada banyak orang, secara tata bahasa dianggap tunggal, sehingga harus menggunakan kata benda tunggal dan kata kerja tunggal.
EN: In English-speaking cultures, discussing social equality and access to education is a common topic of advocacy. The phrase 'go to a good school' often carries a strong connotation of social mobility and equal opportunity for all children, regardless of their background.
EN: The Second Conditional is used to talk about hypothetical, imaginary, or impossible situations in the present or future. The structure is 'If + Subject + Past Simple, Subject + would + base verb'. Here, 'had' is the past simple form of 'have', representing an unreal present situation.
Bahasa Indonesia: Kalimat pengandaian tipe kedua (hipotetis yang bertentangan dengan kenyataan sekarang) digunakan untuk menggambarkan situasi yang tidak mungkin atau murni imajinasi pada saat ini atau masa depan. Strukturnya adalah 'If + subjek + kata kerja lampau sederhana, subjek + would + kata kerja dasar'. Dalam kalimat ini, 'had' adalah bentuk lampau dari 'have', yang menunjukkan keadaan tidak memiliki kekuatan itu saat ini.
If I had wings, I would fly to you.
Jika saya punya sayap, saya akan terbang ke tempatmu.
EN: The modal verb 'would' is used in the main clause of conditional sentences to express the hypothetical result of an unreal condition.
Bahasa Indonesia: Kata kerja bantu 'would' di sini digunakan dalam klausa utama kalimat pengandaian untuk menyatakan hasil yang hipotetis atau imajiner jika kondisi yang diasumsikan terpenuhi.
If she won the lottery, she would travel the world.
Jika dia memenangkan lotre, dia akan berkeliling dunia.
EN: The verb 'wish' is followed by a 'that'-clause containing a past subjunctive verb (e.g., 'were') to express a present regret or a desire for a situation that is different from reality. Even with plural or singular subjects, 'were' is traditionally preferred in formal English.
Bahasa Indonesia: Kata kerja 'wish' (berharap/andai) diikuti klausa yang diawali 'that', kata kerja dalam klausa tersebut harus menggunakan subjungtif lampau (misalnya 'were'), untuk menyatakan keinginan atau penyesalan yang bertentangan dengan kenyataan sekarang. Terlepas dari apakah subjeknya tunggal atau jamak, dalam bahasa Inggris formal biasanya menggunakan 'were'.
I wish I were on a beach right now.
Andai saja saat ini aku sedang berbaring di pantai.
EN: The reciprocal pronoun 'each other' is used to show that two or more people perform the same action toward one another. It functions as the object of the preposition 'to' in this sentence.
Bahasa Indonesia: Kata ganti timbal balik 'each other' (satu sama lain) digunakan untuk menunjukkan bahwa dua orang atau lebih melakukan tindakan yang sama terhadap satu sama lain. Dalam kalimat ini, ia berfungsi sebagai objek dari kata depan 'to'.
EN: The Second Conditional is used to talk about hypothetical, unreal, or imaginary situations in the present or future. The structure is 'If + subject + past simple (were for all subjects), subject + would + base verb'.
Bahasa Indonesia: Kalimat pengandaian tipe kedua (hipotetis yang bertentangan dengan kenyataan sekarang) digunakan untuk menggambarkan situasi yang tidak mungkin terjadi atau murni imajinasi pada saat ini atau masa depan. Strukturnya adalah 'If + subjek + kata kerja lampau (untuk semua subjek gunakan 'were'), subjek + would + kata kerja dasar'.
If I were you, I would accept the job offer.
Jika saya menjadi kamu, saya akan menerima tawaran pekerjaan itu.
EN: The structure 'the + adjective' can function as a plural noun to refer to a specific group of people in society (e.g., 'the sick' means sick people, 'the rich' means rich people).
Bahasa Indonesia: Struktur 'the + kata sifat' dapat berfungsi sebagai kata benda jamak untuk merujuk pada kelompok tertentu dalam masyarakat (misalnya: 'the sick' berarti orang sakit, 'the rich' berarti orang kaya).
The government should provide more support for the elderly.
Pemerintah harus memberikan dukungan lebih banyak kepada orang lanjut usia.
EN: The verb 'wish' is used with a past subjunctive tense (e.g., 'were') to express a desire for a situation in the present or future that is contrary to reality or unlikely to happen. In formal English, 'were' is used for all subjects (including 'our planet', which is singular) instead of 'was'.
Bahasa Indonesia: Kata kerja 'wish' (berharap/andai) diikuti oleh subjungtif lampau (misalnya, menggunakan 'were') untuk menyatakan keinginan yang bertentangan dengan kenyataan saat ini atau masa depan, atau yang sulit untuk diwujudkan. Dalam bahasa Inggris formal, terlepas dari apakah subjeknya tunggal atau jamak (seperti subjek tunggal 'our planet' di sini), kata kerja 'be' selalu menggunakan 'were' bukan 'was'.
I wish I were on a beach right now.
Andai saja saat ini aku sedang berbaring di pantai.
EN: Comparative adjectives ('cleaner' and 'safer') are used to compare two states. For short adjectives, we add '-er' to the end. Since 'safe' already ends in 'e', we only add '-r'.
Bahasa Indonesia: Kata sifat komparatif (seperti 'cleaner' dan 'safer') digunakan untuk membandingkan dua keadaan. Kata sifat pendek bersuku kata satu biasanya diberi akhiran '-er'; karena 'safe' sudah berakhiran 'e', maka hanya perlu menambahkan '-r' saja.
EN: Environmental awareness and sustainability are highly discussed topics globally. Expressing wishes about the planet's well-being reflects a common modern sentiment of eco-anxiety and hope for a better future.
EN: Second Conditional (Hypothetical Present/Future): Used to talk about imaginary, unlikely, or impossible situations in the present or future. The structure is 'If + past simple, would + base verb'.
Bahasa Indonesia: Pengandaian yang bertentangan dengan kenyataan sekarang (tipe kedua): Digunakan untuk menyatakan situasi yang bertentangan dengan kenyataan sekarang atau masa depan, atau yang sangat mungkin tidak terjadi. Strukturnya adalah 'If + kata kerja lampau sederhana, subjek + would/could/might + kata kerja dasar'.
If I had more free time, I would learn how to paint.
Jika saya punya lebih banyak waktu luang, saya akan belajar melukis.
EN: Adverb Placement with Modal Verbs: The adverb 'surely' is placed between the modal verb 'would' and the main verb 'change' to emphasize the certainty of the hypothetical outcome.
Bahasa Indonesia: Posisi kata keterangan dengan kata kerja modal: Kata keterangan 'surely' (pasti) ditempatkan di antara kata kerja modal 'would' dan kata kerja utama 'change' untuk memperkuat kepastian hasil hipotetis tersebut.
She would definitely agree with your decision.
Dia pasti akan menyetujui keputusanmu.
EN: The modal verb 'can' is used here to express possibility or potential. It indicates that 'small dreams' have the inherent capability of growing under the right conditions.
Bahasa Indonesia: Kata kerja modal 'can' di sini digunakan untuk menyatakan kemungkinan atau potensi. Ini menunjukkan bahwa dalam kondisi yang tepat, 'mimpi kecil' memiliki kemampuan internal untuk tumbuh.
Even simple ideas can change the world.
Bahkan ide sederhana pun dapat mengubah dunia.
EN: The subordinating conjunction 'if' introduces a conditional clause (adverbial clause of condition). In this sentence, 'if we truly believe' sets the condition required for the main clause 'Even small dreams can grow' to happen.
Bahasa Indonesia: Kata penghubung subordinatif 'if' memperkenalkan klausa kondisi (klausa keterangan kondisi). Dalam kalimat ini, 'if we truly believe' (jika kita benar-benar percaya) menetapkan kondisi yang diperlukan untuk klausa utama 'Even small dreams can grow' (bahkan mimpi kecil pun dapat tumbuh).
We will succeed if we work together.
Jika kita bekerja sama, kita akan berhasil.
EN: This sentence uses the Second Conditional (subjunctive mood) to talk about hypothetical, imaginary, or highly unlikely situations in the present or future. The structure is 'If + subject + past simple verb, subject + would + base verb'. Note that 'had' is in the past tense to show distance from reality, not past time.
Bahasa Indonesia: Kalimat ini menggunakan 'Kondisi kedua tipe kedua' (subjungtif) untuk menyatakan situasi yang bertentangan dengan kenyataan sekarang atau masa depan, atau yang sangat mungkin tidak terjadi. Strukturnya adalah 'If + subjek + kata kerja lampau, subjek + would + kata kerja dasar'. Perhatikan bahwa 'had' di sini adalah bentuk lampau, tetapi hanya digunakan untuk menunjukkan jarak dari kenyataan, bukan untuk menunjukkan waktu lampau.
If I won the lottery, I would travel around the world.
Jika saya memenangkan lotre, saya akan berkeliling dunia.
EN: The question structure in the main clause of a conditional sentence places the question word (What) and the auxiliary verb (would) before the subject (you). The 'if-clause' remains in the standard statement word order.
Bahasa Indonesia: Dalam struktur pertanyaan pada klausa utama dari kalimat pengandaian, kata tanya (What) dan kata kerja bantu (would) ditempatkan sebelum subjek (you). Sedangkan klausa yang diawali 'if' tetap menggunakan urutan kata pernyataan.
Where would you live if you could move anywhere?
Jika kamu bisa pindah ke mana saja, di mana kamu ingin tinggal?
EN: The concept of 'having one wish' is a common trope in Western folklore and fairy tales (often granted by a genie or a fairy godmother). In conversation, this question is a popular icebreaker used to explore someone's deepest values, dreams, or personality in a playful way.
EN: This sentence uses the Second Conditional (subjunctive mood) to talk about hypothetical, imaginary, or highly unlikely situations in the present or future. The structure is 'If + Subject + Simple Past Verb, Subject + would + Base Verb'.
Bahasa Indonesia: Kalimat ini menggunakan 'Kondisi kedua tipe kedua' (subjungtif) untuk menyatakan situasi yang bertentangan dengan kenyataan sekarang atau masa depan, atau yang sangat mungkin tidak terjadi. Strukturnya adalah 'If + subjek + kata kerja lampau, subjek + would + kata kerja dasar'.
If I won the lottery, I would travel around the world.
Jika saya memenangkan lotre, saya akan berkeliling dunia.
EN: In English-speaking cultures, the concept of 'making a wish' (e.g., when blowing out birthday candles or seeing a shooting star) is a common and nostalgic theme. When asked 'What would you do if you had one wish?', people often balance personal desires with altruistic ones, such as helping family or achieving world peace.
EN: The verb 'wish' is used with a past tense modal verb (like 'could' or 'would') to express a desire for a situation in the present or future that is currently impossible or unlikely to happen. This is a type of subjunctive mood.
Bahasa Indonesia: Kata kerja 'wish' (berharap/andai) diikuti klausa, kata kerja bantu dalam klausa tersebut harus menggunakan bentuk lampau (seperti 'could' atau 'would'), untuk menyatakan keinginan yang 'bertentangan dengan kenyataan' atau 'sangat sulit terwujud' pada saat ini atau masa depan. Ini adalah penggunaan subjungtif.
I wish I could fly like a bird.
Andai saja aku bisa terbang seperti burung.
EN: The determiner 'every' is used before a singular countable noun ('language') to refer to all members of a group of three or more, considering them individually.
Bahasa Indonesia: Kata penentu 'every' (setiap) harus diikuti 'kata benda tunggal yang dapat dihitung' (di sini 'language') untuk merujuk pada setiap anggota dalam kelompok (tiga atau lebih), menekankan individualitas tetapi menyatakan konsep keseluruhan.
Every student in the class passed the exam.
Setiap siswa di kelas lulus ujian.
EN: In English-speaking cultures, expressing a wish to speak multiple languages is highly respected, as multilingualism is often seen as a valuable bridge to understanding diverse cultures and global communication.
EN: The Second Conditional is used to talk about hypothetical, unreal, or imaginary situations in the present or future. In the 'if' clause, the past subjunctive form 'were' is used for all subjects (including I, he, she, it) to emphasize the impossibility of the condition. The main clause uses 'would' + base verb.
Bahasa Indonesia: Kondisi pengandaian tipe kedua (subjungtif yang bertentangan dengan kenyataan sekarang) digunakan untuk menggambarkan situasi yang tidak mungkin atau murni imajinasi pada saat ini atau masa depan. Dalam klausa yang diawali 'if', terkipun subjeknya orang pertama, kedua, atau ketiga, kata kerja 'be' selalu menggunakan bentuk subjungtif lampau 'were' untuk menekankan ketidaknyataannya; klausa utama menggunakan 'would + kata kerja dasar'.
If I were rich, I would travel around the world.
Jika saya punya uang, saya akan berkeliling dunia.
EN: The phrase 'follow one's heart' is an idiomatic expression meaning to act according to one's feelings, desires, or intuition, rather than relying solely on logical reasoning.
Bahasa Indonesia: Frasa 'follow one's heart' adalah ungkapan idiomatik yang berarti 'mengikuti kata hati' atau 'melakukan apa yang diinginkan', yaitu mengambil keputusan berdasarkan intuisi, perasaan, atau keinginan sendiri, bukan hanya berdasarkan logika rasional.
You should stop worrying about what others think and follow your heart.
Kamu harus berhenti mengkhawatirkan pendapat orang lain dan mengikuti kata hatimu.
EN: In Western culture, 'following your heart' is highly valued as it emphasizes individual happiness, personal passion, and self-actualization over social expectations or purely logical, financial choices.
EN: The verb 'wish' is used with a past tense verb (subjunctive mood) to express a desire for a situation in the present or future that is contrary to reality or unlikely to happen.
Bahasa Indonesia: Kata kerja 'wish' diikuti kata kerja bentuk lampau (subjungtif) untuk menyatakan keinginan yang bertentangan dengan kenyataan sekarang atau masa depan, atau yang kemungkinan terwujudnya sangat rendah.
I wish I had a car.
Saya berharap saya punya mobil (tetapi kenyataannya tidak).
EN: The noun clause 'the school had a music studio' acts as the direct object of the verb 'wish'. The conjunction 'that' is omitted here, which is very common in informal spoken English.
Bahasa Indonesia: Klausa kata 'the school had a music studio' berfungsi sebagai objek langsung dari kata kerja 'wish'. Kata penghubung 'that' dihilangkan di sini, yang sangat umum dalam percakapan lisan.
EN: In many English-speaking countries, school music programs and dedicated music studios (with instruments, recording gear, etc.) are highly valued as part of a holistic education, though budget constraints often make them a 'wish' rather than a reality for every school.
EN: Second Conditional (Hypothetical Present/Future): Used to talk about imaginary, unlikely, or impossible situations in the present or future. The structure is 'If + past simple, would + base verb'.
Bahasa Indonesia: Kalimat pengandaian tipe kedua (hipotetis sekarang/masa depan): Digunakan untuk membicarakan situasi yang bertentangan dengan kenyataan sekarang atau masa depan, atau yang hampir tidak mungkin terjadi. Strukturnya adalah 'If + kata kerja lampau, would + kata kerja dasar'.
If I had more money, I would buy a new car.
Jika saya lebih kaya, saya akan membeli mobil baru.
EN: Uncountable Noun 'Courage': 'Courage' is an uncountable noun, meaning it cannot be pluralized and does not take the indefinite article 'a'. We use quantifiers like 'more' or 'some' with it.
Bahasa Indonesia: Kata benda tak terhitung 'Courage' (keberanian): 'Courage' adalah kata benda tak terhitung, yang berarti tidak dapat diubah menjadi jamak dan tidak dapat digunakan dengan kata sandang tak tentu 'a'. Kita biasanya menggunakan kata seperti 'more' (lebih banyak) atau 'some' (beberapa) untuk memodifikasinya.
It takes a lot of courage to speak in public.
Berbicara di depan umum membutuhkan banyak keberanian.
EN: The verb 'wish' is followed by a clause in the past subjunctive (simple past tense) to express a present regret or a desire for a situation that is contrary to current reality.
Bahasa Indonesia: Kata kerja 'wish' (berharap/andai) diikuti klausa, harus menggunakan subjungtif lampau (yaitu kata kerja dalam bentuk lampau), untuk menyatakan penyesalan atas keadaan saat ini, atau keinginan akan situasi yang bertentangan dengan kenyataan sekarang.
I wish I had a car to drive to work.
Andai saja saya punya mobil untuk pergi bekerja.
EN: The structure 'question word + to-infinitive' (how to fix) functions as a noun phrase, acting as the direct object of the verb 'know'. It means 'the way or method to do something'.
Bahasa Indonesia: Struktur 'kata tanya + to-infinitive' (seperti 'how to fix') berfungsi sebagai kata benda dalam kalimat, sebagai objek langsung dari kata kerja 'know', yang berarti 'cara atau metode untuk melakukan sesuatu'.
She doesn't know where to go.
Dia tidak tahu harus pergi ke mana.
EN: The Second Conditional is used to talk about hypothetical, unreal, or imaginary situations in the present or future. The structure is: 'If + subject + past simple verb (were for all subjects), subject + would + base verb'.
Bahasa Indonesia: Pengandaian yang bertentangan dengan kenyataan sekarang (tipe kedua), digunakan untuk menyatakan hipotesis yang tidak sesuai dengan kenyataan sekarang atau tidak mungkin terjadi. Strukturnya: 'If + subjek + kata kerja lampau (untuk semua subjek gunakan 'were'), subjek + would + kata kerja dasar'.
If I had a car, I would drive to work.
Jika saya punya mobil, saya akan mengendarainya ke tempat kerja.
EN: The adverb 'better' is the comparative form of 'well'. It is used here to modify the verb phrase 'play basketball', indicating a higher level of ability compared to the present reality.
Bahasa Indonesia: Kata keterangan 'better' adalah bentuk komparatif dari 'well'. Di sini digunakan untuk memodifikasi kata kerja 'play basketball', yang berarti 'lebih baik' dalam bermain basket dibandingkan dengan keadaan sekarang.
She speaks English better than before.
Dia berbicara bahasa Inggris lebih baik daripada sebelumnya.
EN: The verb 'wish' is used with a past subjunctive clause (here, 'could' + base verb) to express a desire for a situation that is impossible or unlikely to happen in the present or future, or to express a strong, nostalgic hope.
Bahasa Indonesia: Kata kerja 'wish' (berharap/andai) diikuti klausa subjungtif lampau (di sini, 'could' + kata kerja dasar), digunakan untuk menyatakan keinginan yang sulit atau tidak mungkin terwujud pada saat ini atau masa depan, atau untuk mengungkapkan harapan yang kuat dan penuh emosi.
I wish I could fly like a bird.
Andai saja aku bisa terbang seperti burung.
EN: The adverb 'forever' is used as an adverbial modifier of time, typically placed at the end of the clause to emphasize the permanent duration of the action.
Bahasa Indonesia: Kata keterangan 'forever' (selamanya) digunakan sebagai keterangan waktu, biasanya ditempatkan di akhir klausa untuk menekankan sifat permanen dari tindakan tersebut.
EN: This sentence uses the First Conditional (If + present simple, will + base verb) to talk about a real and possible future situation. The 'if-clause' presents the condition, and the main clause presents the likely result.
Bahasa Indonesia: Kalimat ini menggunakan 'kalimat penganda tipe pertama' (If + present simple, will + kata kerja dasar) untuk menggambarkan situasi nyata yang sangat mungkin terjadi di masa depan. Klausa yang diawali 'if' menyatakan kondisi, sedangkan klausa utama menyatakan hasil yang mungkin terjadi.
If you study hard, you will pass the exam.
Jika kamu belajar dengan giat, kamu akan lulus ujian.
EN: The adverb 'never' is a frequency adverb used before the main verb 'feel' to indicate that the action or state of feeling lost will not happen at any time.
Bahasa Indonesia: Kata keterangan frekuensi 'never' (tidak pernah) ditempatkan sebelum kata kerja utama 'feel' untuk memodifikasinya, menunjukkan bahwa keadaan 'merasa tersesat' tidak akan pernah terjadi.
She will never give up on her dream.
Dia tidak akan pernah menyerah pada mimpinya.
EN: In Western culture, 'dreams' often refer to personal aspirations, goals, and hope for the future. Keeping one's dreams alive is a common theme in literature and motivational speeches, emphasizing resilience and self-belief.
Kosakata utama dengan pengucapan IPA, definisi, contoh kalimat, dan kuis interaktif.
Dalam konteks: kompetisi, perlombaan
Dalam konteks: melindungi, menjaga
Dalam konteks: keberanian, nyali
Dalam konteks: membayangkan, mengimajinasikan
Dalam konteks: memperbaiki, meningkatkan
Dalam konteks: pasti, tentu saja
Dalam konteks: percaya, yakin
Dalam konteks: studio, ruang rekaman
Frasa dengan label jenis, definisi dwibahasa, catatan penggunaan, dan contoh kalimat.
To do what you believe is right or what you truly want to do, rather than what is logical or expected.
mengikuti kata hatimu; bertindak sesuai keinginanmu
Performing or appearing in front of an audience on a platform.
di atas panggung
Without charge; costing nothing.
gratis, tanpa biaya