EN: The verb 'wish' followed by a clause in the simple past tense ('had') is used to express a desire for a situation in the present to be different. It represents an unreal or hypothetical present situation (subjunctive mood).
Bahasa Indonesia: Kata kerja "wish" yang diikuti oleh klausa dalam simple past tense (seperti 'had') digunakan untuk menyatakan keinginan atau pengandaian yang berlawanan dengan kenyataan saat ini (suasana subjungtif), yang berarti "andai saja...".
I wish I knew the answer to this question.
Saya berharap saya tahu jawaban dari pertanyaan ini.
EN: The to-infinitive ('to read') is used as an adjective modifier to describe the noun 'time', indicating the purpose or the specific activity for which the time is used.
Bahasa Indonesia: Infinitif (to + kata kerja bentuk dasar, seperti "to read") di sini digunakan sebagai kata sifat untuk menerangkan kata benda "time" (waktu), yang menunjukkan tujuan atau fungsi waktu tersebut, yaitu "waktu untuk membaca".
EN: The Second Conditional is used to talk about hypothetical, unreal, or highly unlikely situations in the present or future. The structure is: 'If + subject + past simple, subject + would + base verb'. In formal English, 'were' is used for all subjects (including 'I', 'he', 'she', 'it') in the if-clause.
Bahasa Indonesia: Pengandaian yang berlawanan dengan kenyataan saat ini (conditional tipe kedua) digunakan untuk menggambarkan situasi hipotetis yang tidak mungkin atau sangat tidak mungkin terjadi di masa sekarang atau masa depan. Strukturnya adalah: "If + subjek + kata kerja bentuk lampau, subjek + would + kata kerja bentuk dasar". Dalam bahasa Inggris formal, kata kerja 'be' dalam klausa if selalu menggunakan "were" apa pun subjeknya (termasuk I, he, she, it).
If I were you, I would take the job offer.
Kalau aku jadi kamu, aku akan menerima tawaran pekerjaan itu.
EN: The phrasal verb 'speak up' means to speak louder so that people can hear you, or to express one's opinions frankly and publicly.
Bahasa Indonesia: Frasa kerja "speak up" berarti "berbicara lebih keras" (agar orang lain dapat mendengar) atau "berani mengungkapkan pendapat, berbicara".
Please speak up; we cannot hear you at the back.
Tolong bicara lebih keras, kami tidak bisa mendengar dari belakang.
EN: In Western classrooms, active participation and 'speaking up' are highly valued and often contribute to a student's final grade. However, many students still experience anxiety about speaking in front of peers, making this a very relatable sentiment.
EN: The verb 'wish' is used to express a desire for a situation that is different from the current reality. When wishing for a change in the present or future, we use the past simple tense (e.g., 'cared') in the subordinate clause. This is a type of subjunctive mood, showing that the situation is hypothetical or unlikely.
Bahasa Indonesia: Kata kerja "wish" (berharap/semoga) digunakan untuk menyatakan keinginan yang berbeda dari kenyataan atau sulit terwujud. Ketika kita menyatakan penyesalan tentang situasi "sekarang" atau "masa depan" dan berharap untuk mengubahnya, klausa bawahan harus menggunakan "past simple" (seperti cared dalam kalimat ini). Ini adalah subjunctive mood yang digunakan untuk menekankan bahwa situasi tersebut tidak sesuai dengan fakta atau kemungkinan terjadinya sangat rendah.
I wish I had a bigger apartment.
Saya berharap saya punya apartemen yang lebih besar. (Sebenarnya apartemen saya sekarang tidak cukup besar)
EN: The phrase 'care about' is a phrasal verb meaning to feel that something is important and to worry about it. When followed by an object, 'about' functions as a preposition.
Bahasa Indonesia: Frasa "care about" berarti "peduli, memperhatikan", yang menunjukkan bahwa seseorang menganggap sesuatu itu penting dan menaruh perhatian padanya. Frasa ini diikuti oleh kata benda atau kata ganti sebagai objek dari preposisi "about".
She really cares about her students' progress.
Dia benar-benar peduli dengan kemajuan murid-muridnya.
EN: In modern English discourse, 'the planet' is commonly used as a synonym for 'the Earth' or 'the environment,' reflecting a widespread cultural awareness of environmental protection and global warming.
EN: The Second Conditional is used to express hypothetical, imaginary, or highly unlikely situations in the present or future. The structure is: 'If + subject + past simple verb, subject + would + base verb'. Note that 'had' is in the past tense, but it refers to an imaginary present situation.
Bahasa Indonesia: Pengandaian yang berlawanan dengan kenyataan sekarang (conditional sentence tipe kedua) digunakan untuk menyatakan situasi hipotetis yang tidak mungkin atau sangat kecil kemungkinannya terjadi di masa sekarang atau masa depan. Strukturnya adalah: "If + subjek + kata kerja bentuk lampau, subjek + would + kata kerja bentuk dasar". Perhatikan bahwa 'had' di sini meskipun berbentuk lampau, merujuk pada keadaan sekarang yang dibayangkan.
If I won the lottery, I would buy a house.
Jika saya memenangkan lotre, saya akan membeli sebuah rumah.
EN: The verb 'wish' is used with a past tense modal ('could' + base verb) to express a desire for a situation in the present or future that is currently impossible or unlikely to happen.
Bahasa Indonesia: Kata kerja "wish" (berharap) diikuti oleh kata kerja bantu bentuk lampau (could + kata kerja bentuk dasar) untuk menyatakan keinginan yang tidak mungkin atau sangat sulit terwujud di masa sekarang atau masa depan (keinginan yang berlawanan dengan kenyataan saat ini).
I wish I could fly like a bird.
Saya berharap saya bisa terbang seperti burung.
EN: Adverbs of manner (like 'fluently') are used to describe how an action is performed. They typically modify verbs and are often placed after the object of the sentence.
Bahasa Indonesia: Kata keterangan cara (seperti "fluently" dengan lancar) digunakan untuk memodifikasi kata kerja, menjelaskan cara suatu tindakan dilakukan. Kata keterangan ini biasanya ditempatkan setelah kata kerja dan objeknya.
She plays the piano beautifully.
Dia bermain piano dengan sangat indah.
EN: Second Conditional (Hypothetical Present/Future): Used to describe imaginary, unlikely, or impossible situations in the present or future. The structure is 'If + subject + past simple, subject + would + base verb'.
Bahasa Indonesia: Pengandaian yang berlawanan dengan kenyataan saat ini (conditional tipe kedua): digunakan untuk menggambarkan situasi imajiner, tidak mungkin, atau sangat tidak mungkin terjadi di masa sekarang atau masa depan. Strukturnya adalah "If + subjek + kata kerja bentuk lampau sederhana, subjek + would + kata kerja bentuk dasar".
If I had more money, I would buy a new car.
Jika saya punya lebih banyak uang, saya akan membeli mobil baru.
EN: Adverbs of Manner: Words that describe how an action is performed. They are often formed by adding '-ly' to an adjective (e.g., 'easy' becomes 'easily'). In this sentence, 'easily' modifies the verb 'pass'.
Bahasa Indonesia: Kata keterangan cara: kata-kata yang menggambarkan bagaimana suatu tindakan dilakukan. Biasanya dibentuk dengan menambahkan "-ly" pada kata sifat (misalnya "easy" menjadi "easily"). Dalam kalimat ini, "easily" memodifikasi kata kerja "pass".
She speaks English fluently.
Dia berbicara bahasa Inggris dengan lancar.
EN: The verb 'wish' is used to express a desire for a situation that is different from the current reality. When wishing about a present situation, we use the past simple tense (e.g., 'were' instead of 'are') to show that the situation is hypothetical or imaginary.
Bahasa Indonesia: Kata kerja "wish" (berharap/andai) digunakan untuk mengungkapkan keinginan yang berlawanan dengan keadaan saat ini atau sulit untuk diwujudkan. Ketika mengungkapkan keinginan tentang "keadaan sekarang", kata kerja dalam anak kalimat harus menggunakan "bentuk lampau" (misalnya menggunakan "were" sebagai pengganti "are") untuk menunjukkan bahwa ini adalah situasi yang bersifat hipotetis atau tidak nyata.
I wish I had a bigger apartment.
Saya berharap saya punya apartemen yang lebih besar. (Namun kenyataannya tidak.)
EN: In subjunctive mood (hypothetical situations), 'were' is traditionally used for all subjects, including singular nouns and pronouns like 'I', 'he', 'she', 'it', and 'the weekend'. While 'was' is common in informal spoken English, 'were' remains the standard in formal contexts.
Bahasa Indonesia: Dalam suasana subjungtif (situasi hipotetis), "were" secara tradisional digunakan untuk semua subjek, baik tunggal maupun jamak (seperti I, he, she, it, atau kata benda tunggal). Meskipun dalam percakapan informal sering terdengar "was", dalam tata bahasa formal "were" tetap menjadi standar.
I wish it were Friday today.
Andai saja hari ini sudah hari Jumat.
EN: Wishing for longer weekends is a universal sentiment in modern work and school culture, often associated with the 'TGIF' (Thank God It's Friday) mindset. It reflects the common struggle to balance work/study life with personal relaxation.
EN: The Second Conditional is used to talk about hypothetical, unreal, or imaginary situations in the present or future. The structure is 'If + subject + past simple, subject + would + base verb'. Note that 'were' is used for all subjects (including I, he, she, it) in formal English.
Bahasa Indonesia: Conditional tipe kedua (pengandaian yang berlawanan dengan kenyataan saat ini) digunakan untuk menggambarkan situasi yang tidak mungkin terjadi atau murni imajinasi di masa sekarang atau masa depan. Strukturnya adalah "If + subjek + kata kerja bentuk lampau, subjek + would + kata kerja bentuk dasar". Dalam bahasa Inggris formal, apa pun subjeknya (termasuk I, he, she, it), kata kerja 'be' selalu menggunakan 'were'.
If I were you, I would accept the job offer.
Kalau aku jadi kamu, aku akan menerima tawaran pekerjaan itu.
EN: The modal verb 'would' is used in conditional sentences to express the hypothetical result of an imaginary situation.
Bahasa Indonesia: Kata kerja modal 'would' digunakan dalam kalimat kondisional untuk menyatakan hasil hipotetis yang timbul dalam situasi imajiner.
EN: In English-speaking countries, local government leaders like mayors often have a direct impact on community planning, including the creation of green spaces and public parks. Expressing what one would do 'if I were the mayor' is a common rhetorical way to discuss civic improvement.
EN: The verb 'wish' is used with a past tense verb (subjunctive mood) to express a desire for a situation in the present or future that is contrary to reality or unlikely to happen. Here, 'knew' indicates that the speaker currently does not know how to fix the clock.
Bahasa Indonesia: Kata kerja "wish" (berharap) diikuti oleh kata kerja bentuk lampau (subjunctive mood) untuk menyatakan keinginan yang berlawanan dengan kenyataan saat ini atau masa depan, atau yang sulit terwujud. Di sini, "knew" menunjukkan bahwa pembicara sebenarnya tidak tahu cara memperbaiki jam tersebut.
I wish I had a car so I could drive to work.
Saya sungguh berharap saya punya mobil, sehingga saya bisa berkendara ke tempat kerja.
EN: The structure 'how + to-infinitive' functions as a noun phrase, acting as the object of the verb 'know'. It is a shortened form of an indirect question (e.g., 'how I should fix...').
Bahasa Indonesia: Struktur "how + to-infinitive (to-V)" berfungsi sebagai frasa nomina, menjadi objek dari kata kerja "know". Ini adalah bentuk ringkas dari kalimat tidak langsung (misalnya 'how I should fix...').
She doesn't know how to swim.
Dia tidak tahu cara berenang.
EN: This sentence uses the Second Conditional to talk about hypothetical, imaginary, or unlikely situations in the present or future. The structure is: 'If + subject + past simple verb, subject + would + base verb'.
Bahasa Indonesia: Kalimat ini menggunakan "conditional sentence tipe kedua" (pengandaian yang berlawanan dengan kenyataan sekarang/masa depan). Strukturnya adalah: "If + subjek + kata kerja bentuk lampau, subjek + would + kata kerja bentuk dasar", yang digunakan untuk menyatakan situasi yang sangat mungkin tidak terjadi atau hanya khayalan belaka di masa sekarang atau masa depan.
If I won the lottery, I would buy a house.
Jika saya memenangkan lotre, saya akan membeli sebuah rumah.
EN: The modal verb 'would' is used in the main clause of conditional sentences to express the hypothetical result of an imagined situation.
Bahasa Indonesia: Kata kerja bantu modal 'would' digunakan dalam klausa utama kalimat pengandaian untuk menyatakan hasil hipotetis yang muncul dalam situasi yang dibayangkan.
If she had more time, she would learn to play the piano.
Jika dia punya lebih banyak waktu, dia akan belajar bermain piano.
EN: In professional and academic environments, using the conditional 'If we worked together...' is a polite and collaborative way to suggest teamwork without sounding demanding or bossy.
EN: The verb 'wish' is used with a past tense verb (subjunctive mood) to express a desire for a situation in the present or future that is contrary to reality or unlikely to happen.
Bahasa Indonesia: Kata kerja "wish" (berharap/semoga) diikuti oleh kata kerja bentuk lampau (subjunctive mood) untuk menyatakan keinginan yang berlawanan dengan kenyataan saat ini atau masa depan, atau keinginan yang kemungkinan terwujudnya sangat kecil.
I wish I had a car.
Semoga saya punya mobil (tetapi sebenarnya saya tidak punya sekarang).
EN: The comparative adjective 'closer' (from 'close') is used here as an adverbial modifier to describe the spatial relationship of being at a shorter distance.
Bahasa Indonesia: Kata sifat komparatif "closer" (berasal dari close) di sini digunakan sebagai keterangan untuk menggambarkan keadaan "lebih dekat" dalam hal jarak spasial.
EN: This sentence uses the Second Conditional to talk about hypothetical, imaginary, or unlikely situations in the present or future. The structure is 'If + subject + past simple verb, subject + would + base verb'.
Bahasa Indonesia: Kalimat ini menggunakan "conditional tipe kedua" (Second Conditional) untuk menyatakan situasi yang berlawanan dengan kenyataan saat ini atau masa depan, hipotetis, atau sangat tidak mungkin terjadi. Strukturnya adalah "If + subjek + kata kerja bentuk lampau, subjek + would + kata kerja bentuk dasar".
If I won the lottery, I would travel around the world.
Jika saya memenangkan lotre, saya akan berkeliling dunia.
EN: The modal verb 'would' is used in the main clause of conditional sentences to express the hypothetical result of an imagined situation.
Bahasa Indonesia: Kata kerja bantu "would" digunakan dalam klausa utama kalimat kondisional untuk menyatakan hasil hipotetis yang timbul dalam situasi imajiner.
If we had a car, we would drive to the beach.
Jika kami punya mobil, kami akan berkendara ke pantai.
EN: Adverbs of frequency (like 'sometimes') can occupy different positions in a sentence. While they often go before the main verb, 'sometimes' is highly flexible and frequently placed at the very beginning of a sentence for emphasis or to set the scene.
Bahasa Indonesia: Kata keterangan frekuensi (seperti 'sometimes') memiliki posisi yang sangat fleksibel dalam kalimat. Meskipun biasanya ditempatkan sebelum kata kerja utama, 'sometimes' sering diletakkan di awal kalimat untuk menunjukkan penekanan atau untuk mengatur suasana.
Sometimes we go for a walk after dinner.
Kadang-kadang kami pergi berjalan-jalan setelah makan malam.
EN: The coordinating conjunction 'and' connects two parallel verbs ('sit' and 'think') that share the same subject ('I'). The adverb 'quietly' modifies 'sit', while the prepositional phrase 'about my wishes' modifies 'think'.
Bahasa Indonesia: Konjungsi koordinatif 'and' menghubungkan dua kata kerja yang sejajar ('sit' dan 'think'), yang berbagi subjek yang sama ('I'). Kata keterangan 'quietly' memodifikasi 'sit', sedangkan frasa preposisional 'about my wishes' memodifikasi 'think'.
She stood up and walked to the window.
Dia berdiri dan berjalan menuju jendela.
EN: The structure 'I wish + Subject + had + past participle (had done)' is used to express regret about a past situation. It indicates that the speaker wishes the past had been different, but it cannot be changed now.
Bahasa Indonesia: Struktur "I wish + subjek + had + past participle (had done)" digunakan untuk menyatakan penyesalan tentang sesuatu di masa lalu. Ini menunjukkan bahwa pembicara berharap situasi di masa lalu berbeda, tetapi sekarang tidak dapat diubah.
I wish I had studied harder for the exam last week.
Saya sungguh berharap saya bisa lebih giat belajar untuk ujian minggu lalu.
EN: The verb 'start' can be followed by a gerund (verb-ing) to indicate beginning an activity. In this sentence, 'learning' is the gerund acting as the direct object of 'started'.
Bahasa Indonesia: Kata kerja "start" dapat diikuti oleh gerund (V-ing) untuk menunjukkan memulai suatu aktivitas. Dalam kalimat ini, "learning" adalah gerund yang berfungsi sebagai objek langsung dari "started".
She started playing the piano when she was five.
Dia mulai bermain piano ketika berusia lima tahun.
EN: Second Conditional (Hypothetical Present/Future): Used to talk about imaginary, unlikely, or impossible situations in the present or future. The structure is 'If + subject + past simple, subject + would + base verb'. Note that 'were' is used for all subjects (including 'I', 'he', 'she', 'it') in formal English.
Bahasa Indonesia: Pengandaian yang berlawanan dengan kenyataan sekarang (conditional sentence tipe kedua): digunakan untuk menggambarkan situasi yang dibayangkan, sangat kecil kemungkinannya, atau tidak mungkin terjadi di masa sekarang atau masa depan. Strukturnya adalah "If + subjek + kata kerja bentuk lampau, subjek + would + kata kerja bentuk dasar". Perhatikan bahwa dalam bahasa Inggris formal, kata kerja "be" selalu menggunakan 'were' terlepas dari orang pertama, kedua, atau ketiga (termasuk I, he, she, it).
If I were you, I would accept the job offer.
Kalau aku jadi kamu, aku akan menerima tawaran pekerjaan itu.
EN: Comparative Adverbs ('more'): Used to modify verbs or adjectives to show a greater degree. In this sentence, 'more' modifies the adjective 'patient' (more patient) and the verb 'enjoy' (enjoy... more).
Bahasa Indonesia: Kata keterangan perbandingan (more): digunakan untuk menerangkan kata kerja atau kata sifat guna menunjukkan peningkatan tingkat. Dalam kalimat ini, "more" masing-masing menerangkan kata sifat "patient" (lebih sabar) dan kata kerja "enjoy" (lebih menikmati).
She practices more to improve her skills.
Dia berlatih lebih banyak untuk meningkatkan kemampuannya.
EN: The verb 'wish' followed by a 'that'-clause containing a past modal (like 'could' or 'would') is used to express a desire for a situation in the present or future that is currently impossible or unlikely to happen.
Bahasa Indonesia: Kata kerja "wish" (berharap) diikuti oleh klausa yang diawali dengan "that", dan di dalam klausa tersebut menggunakan kata kerja bantu bentuk lampau (seperti "could" atau "would") untuk menyatakan keinginan yang sulit atau tidak mungkin terwujud di masa sekarang atau masa depan (keinginan yang berlawanan dengan kenyataan saat ini).
I wish that I could speak French fluently.
Saya berharap saya bisa berbicara bahasa Prancis dengan lancar.
EN: The adverb 'often' is an adverb of frequency. It is typically placed before the main verb (like 'wish') but after auxiliary verbs or the verb 'to be'.
Bahasa Indonesia: Kata keterangan "often" (sering) adalah kata keterangan frekuensi. Biasanya ditempatkan sebelum kata kerja utama (seperti "wish"), tetapi setelah kata kerja bantu atau kata kerja 'be'.
She often visits her grandparents on weekends.
Dia sering mengunjungi kakek-neneknya pada akhir pekan.
EN: The concept of 'time travel' is a very popular trope in English-speaking pop culture, featured in countless movies (like 'Back to the Future') and literature. Expressing a desire to travel back in time is a common conversational topic used to reflect on past choices or history.
EN: The Second Conditional is used to talk about hypothetical, unreal, or highly unlikely situations in the present or future. The structure is: 'If + subject + past simple verb, subject + would + base verb'.
Bahasa Indonesia: Pengandaian yang berlawanan dengan kenyataan sekarang (conditional sentence tipe kedua) digunakan untuk menggambarkan situasi hipotetis yang tidak mungkin atau sangat kecil kemungkinannya terjadi di masa sekarang atau masa depan. Strukturnya adalah: "If + subjek + kata kerja bentuk lampau, subjek + would + kata kerja bentuk dasar".
If I won the lottery, I would travel around the world.
Jika saya memenangkan lotre, saya akan berkeliling dunia.
EN: The word 'extra' is used as an adjective meaning 'more than what is usual, expected, or necessary'. It is placed directly before the noun it modifies.
Bahasa Indonesia: "extra" di sini digunakan sebagai kata sifat yang berarti "tambahan, lebih dari yang biasa, yang diharapkan, atau yang diperlukan". Kata ini ditempatkan langsung sebelum kata benda yang diterangkannya.
She needs an extra key for her apartment.
Dia membutuhkan kunci cadangan (tambahan) untuk apartemennya.
EN: The verb 'wish' is used with a past tense verb (subjunctive mood) to express a desire for a situation in the present or future to be different from reality. Here, 'treated' (past tense) indicates that people currently do not treat the earth with enough care.
Bahasa Indonesia: Kata kerja 'wish' (berharap) diikuti oleh kata kerja bentuk lampau (subjunctive mood) untuk menyatakan keinginan yang berlawanan dengan kenyataan saat ini atau masa depan. Di sini, penggunaan bentuk lampau 'treated' menunjukkan bahwa orang-orang saat ini tidak cukup peduli terhadap bumi, menyatakan harapan yang berlawanan dengan keadaan sekarang.
I wish I knew the answer to this question.
Saya berharap saya tahu jawaban dari pertanyaan ini. (Sebenarnya saya tidak tahu)
EN: The prepositional phrase 'with + noun' can function as an adverbial modifier to describe how an action is performed. 'With greater care' means in a more careful or protective manner.
Bahasa Indonesia: Frasa preposisional "with + kata benda" dapat berfungsi sebagai keterangan (adverbial modifier) untuk menggambarkan cara suatu tindakan dilakukan. "With greater care" berarti "dengan perhatian yang lebih besar" atau "dengan lebih hati-hati" dalam melakukan tindakan.
Please handle this fragile box with great care.
Tolong bawa kotak yang rapuh ini dengan sangat hati-hati.
EN: Environmental awareness and 'green living' are highly discussed topics in modern English-speaking societies. Expressing wishes about environmental protection reflects a common civic concern and values regarding global sustainability.
EN: This sentence uses the Second Conditional (If + past simple, would + base verb) to talk about hypothetical, imaginary, or highly unlikely situations in the present or future. It expresses a situation that is contrary to current facts.
Bahasa Indonesia: Kalimat ini menggunakan conditional sentence tipe kedua (If + simple past, would + kata kerja bentuk dasar) untuk menyatakan pengandaian, khayalan, atau situasi yang sangat kecil kemungkinannya terjadi di masa sekarang atau masa depan.
If I had a map, I would find the way easily.
Jika saya punya peta, saya akan dengan mudah menemukan jalan.
EN: The modal verb 'would' is used in the main clause of conditional sentences to express the hypothetical result of the imaginary condition.
Bahasa Indonesia: Kata kerja bantu "would" digunakan dalam klausa utama kalimat pengandaian untuk menyatakan hasil yang muncul dalam kondisi yang bersifat hipotetis atau tidak nyata.
If she lived closer, we would meet more often.
Jika dia tinggal lebih dekat, kami akan lebih sering bertemu.
EN: Environmental awareness and recycling are highly valued in many English-speaking countries, often integrated into daily civic duties and school curriculums. The sentence reflects a common modern discourse on individual responsibility toward global sustainability.
EN: The verb 'wish' is used with a past subjunctive tense (e.g., 'were' instead of 'am' or 'was') to express a present regret or a desire for a situation that is contrary to current reality. Even with singular subjects like 'I', 'he', or 'she', 'were' is traditionally used in formal English.
Bahasa Indonesia: Kata kerja "wish" (berharap/semoga) diikuti oleh subjunctive mood bentuk lampau (misalnya menggunakan "were" sebagai pengganti "am" atau "was") untuk menyatakan penyesalan tentang keadaan saat ini, atau keinginan akan situasi yang berlawanan dengan kenyataan. Bahkan jika subjeknya tunggal (seperti I, he, she), dalam bahasa Inggris formal secara tradisional tetap menggunakan "were".
I wish I were taller so I could play basketball.
Saya berharap saya bisa lebih tinggi, sehingga saya bisa bermain bola basket.
EN: The phrase 'be brave about doing something' uses the preposition 'about' followed by a gerund (verb-ing) to specify the activity or area in which one wishes to show courage.
Bahasa Indonesia: Dalam frasa "be brave about doing something" (berani menghadapi sesuatu), preposisi "about" harus diikuti oleh gerund (V-ing) untuk secara jelas menunjukkan aktivitas atau bidang spesifik di mana keberanian ingin ditunjukkan.
She is brave about speaking in public.
Dia sangat berani dalam berbicara di depan umum.
EN: The Second Conditional is used to talk about hypothetical, unreal, or highly unlikely situations in the present or future. The structure is: 'If + subject + past simple, subject + would + base verb'. Here, 'could' is the past form of 'can', representing an imaginary ability.
Bahasa Indonesia: Conditional tipe kedua (Second Conditional) digunakan untuk menyatakan situasi hipotetis yang berlawanan dengan kenyataan saat ini atau masa depan, atau yang sangat tidak mungkin terjadi. Strukturnya adalah: "If + subjek + kata kerja bentuk lampau, subjek + would + kata kerja bentuk dasar". Dalam kalimat ini, "could" adalah bentuk lampau dari "can", yang mewakili kemampuan dalam imajinasi.
If I had more money, I would travel around the world.
Jika saya punya lebih banyak uang, saya akan berkeliling dunia.
EN: The word 'less' is the comparative form of 'little' and is used to modify uncountable nouns (like 'time') to indicate a smaller amount.
Bahasa Indonesia: Kata "less" adalah bentuk komparatif dari "little" dan digunakan untuk memodifikasi kata benda yang tidak dapat dihitung (seperti "time"), menunjukkan jumlah yang lebih sedikit atau lebih kecil.
We should spend less money on fast food.
Kita harus mengurangi uang yang kita habiskan untuk makanan cepat saji.
EN: The verb 'remind' is commonly used in the pattern 'remind someone of something' to mean 'to cause someone to remember or think about something'.
Bahasa Indonesia: Kata kerja "remind" (mengingatkan) umumnya digunakan dalam pola "remind someone of something" (mengingatkan seseorang akan sesuatu), yang berarti membuat seseorang mengingat atau memperhatikan suatu hal.
This song reminds me of my childhood.
Lagu ini mengingatkanku pada masa kecilku.
EN: The phrase 'what truly matters to me' uses a nominal relative clause (noun clause) starting with 'what' acting as the object of the preposition 'of'. The verb 'matter' means 'to be important'.
Bahasa Indonesia: Frasa "what truly matters to me" menggunakan klausa nomina relatif yang diawali oleh "what", yang berfungsi sebagai objek dari preposisi "of". Kata kerja "matter" di sini berarti "penting" atau "berpengaruh besar".
We need to focus on what matters most.
Kita perlu fokus pada hal-hal yang paling penting.
EN: The First Conditional is used to talk about things which might happen in the future. It uses the present simple tense in the 'if' clause, and the future simple tense ('will' + verb) in the main clause.
Bahasa Indonesia: Conditional sentence tipe pertama (First Conditional) digunakan untuk menggambarkan situasi nyata yang mungkin terjadi di masa depan. Dalam klausa if, kata kerja menggunakan simple present tense; dalam klausa utama, kata kerja menggunakan simple future tense (will + kata kerja bentuk dasar).
If it rains tomorrow, we will cancel the picnic.
Jika besok hujan, kami akan membatalkan piknik.
EN: The phrasal verb 'act on' means to take action in response to something, such as advice, information, or a feeling.
Bahasa Indonesia: Kata kerja frasa 'act on' berarti "mengambil tindakan sebagai respons terhadap sesuatu", biasanya merujuk pada saran, informasi, atau suatu gagasan.
You should act on his advice.
Kamu seharusnya bertindak berdasarkan sarannya.
EN: The present perfect tense ('have learned') is used here to describe a past action or realization that has strong relevance and truth in the present moment.
Bahasa Indonesia: Present perfect tense (have learned) di sini digunakan untuk menggambarkan tindakan atau pemahaman yang terjadi di masa lalu, tetapi pemahaman tersebut masih sangat relevan dan nyata pada saat ini.
I have learned that patience is key to success.
Saya telah memahami bahwa kesabaran adalah kunci kesuksesan.
EN: A noun clause introduced by 'that' ('that a wish... stays a dream') acts as the direct object of the verb 'learned', expressing the content of what was realized.
Bahasa Indonesia: Klausa nomina yang diawali oleh "that" (that a wish... stays a dream) berfungsi sebagai objek langsung dari kata kerja "learned", untuk menyatakan isi spesifik dari apa yang dipelajari.
She believes that honesty is the best policy.
Dia percaya bahwa kejujuran adalah kebijakan terbaik.
EN: This sentence reflects a common philosophical theme in Western self-improvement and motivational culture: the emphasis on 'agency' and 'action' over passive wishing. It highlights the cultural value placed on proactivity and taking control of one's destiny.
EN: The phrasal verb 'wish for' is used to express a desire for something that is unlikely to happen, or to ask someone about their hopes and desires. In questions, the interrogative pronoun 'what' acts as the object of the preposition 'for'.
Bahasa Indonesia: Frasa kerja "wish for" (mengharapkan, meminta) digunakan untuk menyatakan keinginan akan sesuatu yang tidak mungkin terjadi, atau untuk menanyakan keinginan orang lain. Dalam kalimat tanya, kata ganti tanya "what" berfungsi sebagai objek dari preposisi "for".
What did you wish for when you blew out the candles?
Apa yang kamu harapkan ketika meniup lilin?
EN: Direct address: When addressing someone directly by name in English, the name is set off with a comma. If the name is at the end of the sentence, the comma precedes it.
Bahasa Indonesia: Sapaan langsung: ketika memanggil seseorang secara langsung dengan nama dalam bahasa Inggris, nama tersebut harus dipisahkan dengan koma. Jika nama berada di akhir kalimat, koma ditempatkan sebelum nama tersebut.
EN: In Western culture, asking someone what they 'wish for' is a common, friendly conversation starter, especially in the context of talking about dreams, goals, or when blowing out birthday candles (though traditionally, birthday wishes are kept secret to make them come true!).
EN: The verb 'wish' is followed by a clause with a past subjunctive verb (like 'could' or 'had') to express a desire for a situation in the present or future that is contrary to reality or unlikely to happen.
Bahasa Indonesia: Kata kerja "wish" (berharap) diikuti oleh klausa, dan kata kerja dalam klausa tersebut harus menggunakan subjunctive mood bentuk lampau (seperti "could" atau "had") untuk menyatakan keinginan yang berlawanan dengan kenyataan saat ini atau masa depan, atau yang sulit terwujud.
I wish I had a car.
Saya berharap saya punya mobil (tetapi sebenarnya sekarang tidak punya).
EN: The structure 'as + adverb + as' is used to make comparisons, indicating that two things are equal in some way. Here, 'as well as' compares the ability to paint.
Bahasa Indonesia: Struktur "as + kata keterangan + as" digunakan untuk membuat perbandingan, menunjukkan bahwa dua hal memiliki tingkat yang sama dalam suatu aspek. Di sini, "as well as" digunakan untuk membandingkan kemampuan menggambar.
EN: The Second Conditional is used to talk about hypothetical, unreal, or imaginary situations in the present or future. The structure is: 'If + subject + past simple, subject + would + base verb'. Note that 'were' is used instead of 'was' for all subjects (I/he/she/it) in formal English.
Bahasa Indonesia: Pengandaian yang berlawanan dengan kenyataan saat ini (conditional tipe kedua) digunakan untuk menggambarkan situasi yang tidak mungkin terjadi atau murni imajinasi di masa sekarang atau masa depan. Strukturnya adalah: "If + subjek + kata kerja bentuk lampau, subjek + would + kata kerja bentuk dasar". Dalam bahasa Inggris formal, apa pun subjeknya (I/he/she/it), kata kerja 'be' selalu menggunakan 'were'.
If I had a million dollars, I would buy a house by the beach.
Jika saya punya satu juta dolar, saya akan membeli rumah di tepi pantai.
EN: The modal verb 'would' is used in the main clause of conditional sentences to express the hypothetical result of an imaginary situation.
Bahasa Indonesia: Kata kerja modal 'would' digunakan dalam klausa utama kalimat kondisional untuk menyatakan hasil yang timbul dalam situasi hipotetis atau pengandaian.
If she studied harder, she would pass the exam easily.
Jika dia belajar lebih giat, dia akan dengan mudah lulus ujian.
EN: The verb 'wish' is followed by a noun clause expressing a desire that is contrary to reality. When expressing a wish about the present or future that is unlikely or impossible, the past simple tense (subjunctive mood) is used in the noun clause (e.g., 'ended').
Bahasa Indonesia: Kata kerja "wish" (berharap/andai) diikuti oleh klausa kata benda yang mengungkapkan keinginan yang berlawanan dengan kenyataan. Ketika mengungkapkan keinginan yang sulit atau tidak mungkin terwujud di masa sekarang atau masa depan, klausa tersebut harus menggunakan simple past tense (suasana subjungtif), seperti "ended" dalam kalimat ini.
I wish I had a car.
Andai saja saya punya mobil (tetapi kenyataannya tidak).
EN: The adverb 'never' is used before the main verb to express absolute negation. In this subjunctive structure, 'never' is placed before the past tense verb 'ended' to emphasize the desire for an action to never happen.
Bahasa Indonesia: Kata keterangan "never" (tidak pernah) ditempatkan sebelum kata kerja utama untuk menyatakan negasi mutlak. Dalam struktur subjungtif ini, "never" diletakkan sebelum kata kerja bentuk lampau "ended" untuk menekankan keinginan kuat agar suatu tindakan tidak pernah terjadi.
She never eats meat.
Dia tidak pernah makan daging.
EN: In many English-speaking countries, summer break is the longest school vacation of the year, typically lasting 2 to 3 months. It is culturally associated with freedom, outdoor activities, travel, and a complete break from academic pressure, making the sentiment of wishing it would never end universally relatable among students.
EN: The Second Conditional is used to talk about hypothetical, unreal, or highly unlikely situations in the present or future. The structure is: 'If + subject + simple past verb, subject + would + base verb'.
Bahasa Indonesia: Conditional tipe kedua (pengandaian yang berlawanan dengan kenyataan saat ini) digunakan untuk menggambarkan situasi hipotetis yang tidak mungkin atau sangat tidak mungkin terjadi di masa sekarang atau masa depan. Strukturnya adalah: "If + subjek + kata kerja bentuk lampau, subjek + would + kata kerja bentuk dasar".
If I had more money, I would buy a new car.
Jika saya lebih kaya, saya akan membeli mobil baru.
EN: The modal verb 'would' is used in conditional sentences to express the hypothetical result of an unreal condition. It indicates what the speaker intends or plans to do if the condition were met.
Bahasa Indonesia: Kata kerja modal "would" dalam kalimat kondisional digunakan untuk menyatakan hasil hipotetis yang timbul dalam kondisi pengandaian, menunjukkan apa yang pembicara berniat atau rencanakan untuk dilakukan jika kondisi tersebut terpenuhi.
If she had time, she would help us.
Jika dia punya waktu, dia akan membantu kita.
EN: The verb 'wish' is used with a past subjunctive clause (using past tense verbs like 'could' or 'had') to express a desire for a situation in the present or future that is contrary to fact or unlikely to happen.
Bahasa Indonesia: Kata kerja "wish" (berharap/semoga) ketika diikuti oleh klausa, harus menggunakan subjunctive mood bentuk lampau (yaitu menggunakan kata kerja bentuk lampau seperti "could" atau "had") untuk menyatakan keinginan yang berlawanan dengan kenyataan saat ini atau masa depan, atau yang sulit terwujud.
I wish I could fly like a bird.
Andai saja aku bisa terbang seperti burung.
EN: The modal verb 'could' is the past tense of 'can'. In this subjunctive context, it represents hypothetical ability in the present, meaning 'would be able to'.
Bahasa Indonesia: Kata kerja modal "could" adalah bentuk lampau dari "can". Dalam konteks subjunctive ini, kata ini menyatakan kemampuan hipotetis di masa sekarang, yang berarti "seandainya bisa...".
I wish she could come to our party tonight.
Saya berharap dia bisa datang ke pesta kita malam ini.
EN: In English-speaking cultures, pets (especially dogs) are often treated as full family members. It is very common for owners to talk to their dogs as if they were humans, which explains the sentimental desire to have them truly 'understand' human language.
EN: Second Conditional (Hypothetical Present/Future): Used to talk about imaginary, unlikely, or impossible situations in the present or future. The structure is 'If + subject + past simple verb, subject + would + base verb'.
Bahasa Indonesia: Pengandaian yang berlawanan dengan kenyataan saat ini (conditional tipe kedua): digunakan untuk menggambarkan situasi imajiner, tidak mungkin, atau sangat tidak mungkin terjadi di masa sekarang atau masa depan. Strukturnya adalah "If + subjek + kata kerja bentuk lampau, subjek + would + kata kerja bentuk dasar".
If I had a million dollars, I would buy a house.
Jika saya punya satu juta dolar, saya akan membeli sebuah rumah.
EN: The adverb 'more' used as a comparative modifier: Here, 'more' functions as an adverb modifying the verb 'saved', indicating a greater quantity or degree of saving.
Bahasa Indonesia: Kata keterangan "more" digunakan sebagai penanda komparatif: di sini, "more" berfungsi sebagai kata keterangan yang memodifikasi kata kerja "saved", menunjukkan tingkat atau jumlah tabungan yang lebih besar.
EN: The verb 'wish' followed by a clause in the simple past tense ('knew') is used to express a regret or a desire for a situation in the present to be different. This is a type of subjunctive mood, indicating that the speaker does not currently know the answer.
Bahasa Indonesia: Kata kerja "wish" (berharap) yang diikuti oleh klausa dalam simple past tense (seperti 'knew') digunakan untuk menyatakan penyesalan atau keinginan untuk mengubah keadaan saat ini. Ini adalah suasana subjungtif, yang menunjukkan bahwa pembicara sebenarnya tidak mengetahui jawabannya saat ini.
I wish I had a car.
Saya sungguh berharap saya punya mobil (tetapi kenyataannya tidak).
EN: The noun 'answer' is typically followed by the preposition 'to' (not 'of') when specifying what the answer solves or responds to (e.g., 'the answer to the question').
Bahasa Indonesia: Kata benda "answer" (jawaban) biasanya diikuti oleh preposisi "to" (bukan "of") ketika ingin menunjukkan secara spesifik hal yang dijawab atau ditanggapi (contoh: "the answer to the question").
Do you know the answer to this riddle?
Apakah kamu tahu jawaban dari teka-teki ini?
EN: The Second Conditional is used to talk about hypothetical, unreal, or imaginary situations in the present or future. The structure is: 'If + subject + past simple (were for all subjects), subject + would + base verb'. Using 'were' instead of 'was' for 'I/he/she/it' is the standard subjunctive form in formal English.
Bahasa Indonesia: Conditional tipe kedua (Second Conditional) digunakan untuk menyatakan situasi yang berlawanan dengan kenyataan saat ini atau masa depan, hipotetis, atau sangat tidak mungkin terjadi. Strukturnya adalah: "If + subjek + kata kerja bentuk lampau (semua subjek menggunakan were), subjek + would + kata kerja bentuk dasar". Dalam bahasa Inggris formal, apa pun subjeknya, kata kerja 'be' selalu menggunakan 'were' sebagai subjunctive mood.
If I were rich, I would travel around the world.
Jika saya punya uang, saya akan berkeliling dunia.
EN: The idiom 'follow one's heart' means to act according to one's feelings, desires, or intuition rather than strictly relying on logical reasoning.
Bahasa Indonesia: Frasa "follow one's heart" secara harfiah berarti "mengikuti hati seseorang", yang berarti "mendengarkan suara hati" atau "bertindak berdasarkan perasaan/emosi", bukan hanya mengandalkan logika rasional.
You should follow your heart and choose the career you love.
Kamu seharusnya mendengarkan suara hatimu dan memilih profesi yang kamu cintai.
EN: In Western culture, 'following your heart' is highly valued as it emphasizes individual happiness, passion, and personal authenticity over social expectations or purely pragmatic choices.
EN: The verb 'give' is a ditransitive verb, which means it takes two objects: an indirect object (the recipient, 'us') and a direct object (the thing being given, 'a reason'). The typical pattern is 'give + indirect object + direct object'.
Bahasa Indonesia: Kata kerja "give" (memberi) adalah kata kerja dwitransitif (ditransitive verb), yang berarti membutuhkan dua objek: objek tidak langsung (penerima "us") dan objek langsung (benda yang diberikan "a reason"). Pola kalimat yang khas adalah "give + objek tidak langsung + objek langsung".
She gave me a beautiful book.
Dia memberi saya sebuah buku yang indah.
EN: The infinitive phrase 'to keep trying' acts as an adjective modifying the noun 'reason'. The verb 'keep' is followed by a gerund (verb-ing) to express the continuation of an action.
Bahasa Indonesia: Frasa infinitif "to keep trying" di sini digunakan sebagai kata sifat untuk menerangkan kata benda "reason" (alasan). Sementara itu, kata kerja "keep" diikuti oleh gerund (V-ing), yang menunjukkan bahwa suatu tindakan terus berlangsung.
We need a plan to keep winning.
Kita membutuhkan rencana yang bisa terus membuat kita menang.
Kosakata utama dengan pengucapan IPA, definisi, contoh kalimat, dan kuis interaktif.
Dalam konteks: dengan lancar
Dalam konteks: wali kota
Dalam konteks: membaik, menjadi lebih baik
Dalam konteks: sabar
Dalam konteks: mendaur ulang (sampah, limbah, dll.)
Dalam konteks: kebiasaan
Dalam konteks: keberanian, nyali
Dalam konteks: kompetisi, perlombaan
Frasa dengan label jenis, definisi dwibahasa, catatan penggunaan, dan contoh kalimat.
To express one's opinions frankly and publicly.
berani mengungkapkan pendapat, menyuarakan pikiran
To journey into the past.
Bepergian menembus waktu kembali ke masa lalu.
To use time in a useless or unproductive way.
Membuang-buang waktu
To take action according to a suggestion, belief, or information.
Mewujudkan, mengambil tindakan berdasarkan sesuatu
To do what one sincerely believes is right or what one truly desires, rather than what is logical or expected.
Mendengarkan suara hati, mengikuti keinginan hati